Foto atas : foto kota jogja dilihat dari samping jendela pesawat Garuda Denpasar-Jogja.
Foto bawah: ngambil dari fb nya teman: zaenal» foto kota Jogja dilihat dari Bukit Bintang (sebenernya saya juga punya foto Jogja dari bukit bintang...tapi hasilnya gelap total. Jadi foto ini ngambil dari fb teman deh).
Pada intinya: mirip kan :) Jogja is beautiful… i love you full JOGJAAAA

diambil dari kisah salah seorang pengajar muda .


Abstraksi

Perbedaan tingkat perekonomian keluarga menjadi pemicu masalah yang cukup pelik di kalangan siswa SD kami, mulai dari meminta teman untuk mengerjakan PR sampai dengan bullying teman sebayanya. Sungguh ironis menurut saya, melihat seusia mereka yang masih anak-anak sudah bisa memanfaatkan teman-temannya dengan cara yang salah dan sangat buruk.

Latar Belakang

Saya mengajar di SDN 01 Lebak Situ, daerah pedesaan namun tingkat perekonomian masyarakatnya cukup baik. Akan tetapi, hal ini membuat saya sedih karena perbedaan tingkat perekonomian antar warga yang cukup besar memicu dampak yang buruk dalam menghadapi pergaulan siswa di sekolah. Di sekolah saya, ada 2 tipe siswa dilihat dari tingkat perekonomian keluarganya, yaitu yang tergolong pada sebutan si “kaya” dan si “miskin”.

Permasalahan

Siswa Sekolah Dasar
Hari ini ruang kelas terlihat ramai. Ketua kelas sibuk menertibkan teman-temannya untuk siap melaksanakan pelajaran. Diawali dengan mengabsen siswa terlebih dahulu. Tiba-tiba salah seorang siswa saya meminta ijin keluar untuk ke toilet.
Hampir 30 menit, siswa itu keluar dan tidak kembali ke ruang kelas. Akhirnya, saya temui dia di toilet dan ternyata dia tidak ada di toilet. Kemudian saya mencarinya ke kantin sekolah, ternyata dia ada di situ bersama-sama teman sebayanya yang berbeda kelas. Saya panggil anak itu, kemudian saya tanyakan sedang apa yang dia lakukan di sana bersama teman-temannya.
Awalnya dia tidak mau menceritakan. Karena saya desak terus dengan berbagai pertanyaan, akhirnya dia mengakui bahwa dia disuruh oleh teman-temannya itu untuk mengerjakan PR nya dengan imbalan akan diberikan uang. Untuk menyebutkan jumlah besarannya, mungkin tak seberapalah tetapi dengan cara yang seperti ini sungguh keterlaluan bagi saya. Akhirnya, siswa tersebut saya bawa masuk kembali ke dalam kelas untuk mengikuti pelajaran.

Mengatasi Masalah

Untuk mengatasi permasalah itu, saya mencoba membiasakan siswa untuk turut berbagi di kelas terhadap sesama dengan tak memandang dia itu miskin atau kaya. Di dalam pelajaran yang memerlukan kerja kelompok, saya berusaha menggabungkan para siswa dengan latar belakang yang berbeda (dilihat dari tingkat perekonomian keluarganya, kemampuan akademis, dan keaktifan siswa). Hal ini dimaksudkan agar siswa tidak membedakan satu dengan lainnya dan dapat menghargai setiap usaha siswa, terutama dalam mengerjakan tugas. Saya juga menekakan pada seluruh siswa agar tidak terjadi hal-hal yang tidak baik/ buruk.

Lesson Learned

Pendidikan karakter yang disisipkan

Di sini, penulis bisa menyampaikan pendidikan karakter apa yang disisipkan selama proses belajar. Misalnya, belajar bekerja sama dengan cara kerja kelompok, belajar antri, dsb.
Saya menanamkan sikap toleransi dan menghargai setiap manusia baik dia memiliki segi ekonomi kehidupannya kaya ataupun miskin, pintar ataupun bodoh, dan lain-lain.

Nama lengkapnya Frida Ayu Vebriana. Saya pertama kali kenal dia di kampus pas pendaftaran ulang SPMB. Dia ama kakak tertuanya sedang nyari kos-kosan. Trus saya menawari agar dia kos sekomplek ama saya aja…
Pas awal-awal kenal, kami nggak langsung banyak bicara. Setelah lebih dari sebulan, baru deh kerasa banget akrabnya. Kami sama-sama dari Kabupaten Cilacap, dan sama-sama tinggi sehingga sering dijuluki anak kembar. Kami punya laptop yang kembar karena belinya samaan dan sepatu yang kembar tapi beda warna.
Sudah 2 bulan saya pulang dari Flores dan belum juga bisa bertemu dengan sahabat yang satu ini. Makanya, saya membuat 9 daftar keistimewaan dia di mata saya, buat obat kangen. Kenapa 9? Karena 9 adalah angka favorit saya! Hehehe.

1. Frida itu temen yang penyabar, dewasa, kalem, santai, dan cuek pada hal-hal yang nggak penting. Dalam hal ini sama kayak upik. Dia bisa menenangkan saya di saat saya nangis lebay melihat sebuah nilai mata kuliah 4 SKS yang nggak memuaskan buat saya. Dia bisa tetap tenang saat menjelang ujian praktikum tes psikologi , adik saya dan kawannya yang dijadikan testee belum tiba. Padahal saya udah panik.

2. Frida nggak langsung marah-marah atau nyindir kalo ada sikap saya yang salah. Sebagai teman, dia akan mengingatkan pelan-pelan.

3. Saya itu tipe cewek moody. Frida bisa memahami sikap saya yang kadang ngeselin. Memahami keinginan saya yang kadang freak. Saya paham pasti Frida pernah sebel ama sikap saya, tetapi setelah mengetahui saya luar dalam dan kekurangan saya, dia nggak pergi meninggalkan saya. Padahal, temen dia kan bukan saya aja. a friend who can accept me just the way I am is hard to find. So I’m lucky to have her as my best friend.

4. Dia ada di saat susah dan senang. Pernah karena sedang merasa tertekan dan nggak nyaman sama sesuatu (yang jelas bukan karena Frida), saya cari kesibukan sendiri dan ada fase yang memang saya jarang main dengannya karena sibuk. Tapi, bukan berarti putus kontak.

5. Kami pernah kluntung-kluntung nggak jelas. Jalan kaki dari kos-kampus-perpus-naik angkot- nyampe gramedia-baca-baca-jalan kaki ke galeria-lanjut ke Gardena-jalan kaki-makan di warung steak- pulang ke kos. Pengalaman lucu tak terlupakan.

6. Dia itu orangnya rapi banget. Pernah suatu hari dia dateng ke kos dan ngeliat kamarku nggak rapi. Langsung deh diberesin ama dia. “Aku nggak bisa makan kalo tempat ini nggak rapi!” katanya. Hahaha. Kalo gitu sering-sering aja dateng,beb. Biar aku nggak usah ngerapiin kamar!

7. Kami pernah ngayal bareng pas semester 1. Saya bilang: “Da besok kita wisudanya samaan lho ya. Ntar sama-sama cumlaude aja ya Da. Biar duduk di kursi depan.” Khayalan saya lumayan terwujud. Kita sama-sama cumlaude. Sayangnya, saya wisuda duluan. Di auditorium saya nggak duduk sebelahan sama dia :-( . Itulah sebabnya pas yudisium saya nggak bilang kalo hari itu hari yudisium saya, sebab dia nggak ikut dalam yudisium saya. Rasanya ada yang kurang….! Tapi salutnya lagi, dia sportif! Lihat, di sisi lain dia pun bisa tetap bahagia datang dan melihat saya memakai toga. Dia adalah sosok yang setia dalam suka maupun duka. Saat saya sedang sedih, dia sabar ngedengerin curhatan, keluhan, omelan dan tangisan lebay saya. Saat saya senang dan sukses, dia pun tetap kasih dukungan dan senang melihat keberhasilan sahabatnya :-)

8. Dia temen yang asik banget dan betah diajak jalan berlama-lama di mall walaupun nggak borong. Beli seperlunya aja. Maklum jaman mahasiswa, guys.

9. Last but not least, I wish Frida still become my true–best friend forever. Pada dasarnya saya bukan orang yang suka dengan sengaja menyakiti dengan orang lain. Misalnya nih, pas balik ke Jawa, saya nggak sms frida. Saya Cuma ngapdet status via Fb aja sebagai ‘woro-woro’ alias pemberitahuan. Soalnya situasi saat itu nggak memungkinkan untuk saya ngabari semua orang yang dekat dengan saya. Beberapa orang yang tau saya pulang setelah ngeliat aktivitas di Fesbuk pun menghubungi, salah satunya Frida. Dia bilang: “Inaaa kamu kok pulang nggak ngabari aku sih? Hiks…kamu nggak anggep aku sahabatmu ya?” katanya via BBM yang tentu saja setengah bercanda dan setengah kecewa. Hehehe…ya maaappp, gitu jawab saya. Satu lagi, saya tipe orang yang fleksibel dan seringnya spontanitas kalo mau ketemu temen. Nah, prediksi saya kan dalam jangka waktu dekat ini belum bisa ketemu Frida makanya saya nggak ngabarin dia. Eh ternyata langkah saya yang nggak basa-basi itu salah.Hehehe..tapi senengnya nih, Frida itu bisa ngertiin alasan saya .Frida selalu bisa memahami arti di balik sikap dan tindakan saya itu. Bukan seperti seorang teman yang tiba-tiba aja sebal,sensi dan ngasih cap hitam dengan mengabaikan penjelasan saya dan nggak mau klarifikasi. 

So, nyari sahabat yang tulus kayak Frida itu susah! She is one of my priceless friend for me :-)

Abstrak

Tulisan ini berisi pengalaman belajar saya bagaimana menumbuhkan kepercayaan diri siswa. Selain itu, tulisan ini berisi nilai-nilai apa yang didapat dari proses belajar ini.

Latar belakang

Anak-anak murid saya adalah anak yang pintar. Sayangnya mereka sering kali mengeluh “Bu tidak bisa !”, “Bu susah !”. ketidak percayaan diri inilah hambatan terbesar dalam proses pembelajaran. Tidak ada hal yang tidak mungkin dilakukan jika kita percaya dulu. Walaupun kelihatannya pekerjaan ini sangat sulit diselesaikan. Itulah yang ingin saya tanamkan pada siswa-siswa saya. Memupuk rasa percaya diri pada diri anak tidak mudah. Tidak seperti mengajarkan suatu materi. Butuh proses dan konsistensi. Oleh karena itu, saya membuat peraturan kelas yang tujuannya memupuk rasa percaya diri siswa.

Melatih Kebiasaan Baru

Ilustrasi
Anak-anak ini pada awalnya pemalu dan kurang percaya diri. Bukan berarti mereka tidak bisa. Tapi mereka sudah pesimis dari awal. Untuk melatih kepercayaan diri mereka, saya membuat peraturan kecil.
Setiap anak yang berkata “tidak bisa” di kelas harus memasukan uang ke celengan. Awalnya ada kata “yaaaa” kecewa dari anak-anak. Anak-anak dipaksa keluar dari zona nyamannya untuk belajar, belajar, belajar. Belajar itu prosesnya tidak nyaman. Namun hasil belajar itu akan merubah perilaku siswa.
Dari anak-anak yang pemalu, minder, kini berubah menjadi anak yang lebih percaya diri, lebih optimis. Ya, it works ! mereka berhasil keluar dari zona nyamannya.
Oh ya, uang celengan yang terkumpul itu disumbangkan untuk anak-anak yatim di lingkungan mereka. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Peraturan ini selain melatih kepercayaan diri anak-anak juga melatih jiwa social anak-anak.

Lesson Learned

Menumbuhkan kepercayaan diri anak tidak mudah. Anak-anak itu unik dan harus berhati-hati, karena salah sedikit (salah berkomunikasi, salah perlakuan), bukan kepercayaan diri yang didapat namun kebalikannya.
Pengalaman ini bukan hanya anak-anak yang belajar, tapi saya. Saya belajar untuk bersabar, menikmati proses belajar anak-anak. Saya juga belajar untuk mempercayai anak-anak ini. Cepat atau lambat anak-anak ini akan berubah lebih baik, lebih percaya diri, lebih optimis.

Saya punya beberapa teman baik pada masa kecil. Salah satunya Niska. Kami seangkatan, hanya saja usianya lebih tua 1 tahun daripada saya. Adalah takdir yang mempertemukan kami kembali setelah berpisah 10 tahun. Nggak ada yang namanya surat-suratan. Awalnya lewat komunikasi lewat facebook, terus lanjut ke SMS. Dia menamatkan studinya di prodi Matematik Unram dalam jangka waktu 3,5 tahun. Sebulan sebelum ujian skripsi, Bapaknya meninggal setelah sakit komplikasi. Dan Niska begitu tegar menghadapi kematian Bapaknya….Padahal dari status-status fesbuknya yang dulu-dulu, keliatan banget kalo dia itu akrab dan ‘nyatu’ banget ama bokapnya…

Kira-kira 4 bulan setelah lulus S1, dia melanjutkan S2 di Matematika UGM. Itulah awal perjumpaan kami kembali.
“Waaaaa INAAAA hahahah sama aja sih rupamu! Gak da beda! Tingkahmu juga. Nyentrik, konyol, agak polos, hahaaa sama kayak dulu!” itulah awal tanggapan dia.
”Kamu juga sama aja!” gitu jawabku.
Ya memang perubahan Niska nggak begitu signifikan. Dia teman yang berjiwa pemimpin (dulu ketua kelas), kritis, cerdas, mudah bergaul, punya banyak teman, cantik, dewasa, wah tipikal wanita karir pokoknya. Setelah ngobrol banyak sama dia, saya jadi tau aktivitasnya pernah jadi model. Ya emang dia juga tinggi. Dia punya keinginan ambil S2 sejak masih duduk di bangku awal kuliah S1.

Inilah beberapa poin dari dia yang memotivasi saya:
1. Dia pinter banget masak macam-macam masakan tradisional dan kue. Keren. Nggak biasa-biasanya cewek yang career oriented bisa kayak gini.
2. Dia religius, tapi nggak fanatik. Seperti saat mengejar beasiswa S2 kesana-sini, dia penuh usaha, ambisius, tetap berserah diri dan ibadah. Hasilnya? Sebulan setelah diterima S2 di UGM, pengumuman DIKTI keluar dan menyatakan ia dapat beasiswa S2 full dari DIKTI meliputi biaya kuliah plus living cost. Ah….jadi ingat pas dia bilang: “Kalau kamu punya keinginan, kejar terus Na. Jika itu yang terbaik bagimu, percaya deh Allah itu punya jalan untuk kamu!” kalimat ini diucapkan dengan sungguh-sungguh dan semangat di depanku.

Jadi ingat SMS nya sebelum saya berangkat ke Ende tahun lalu. “Wah..kamu mau jadi guru di pelosok Na? Sungguh mengagumkan. Aku bangga punya teman seperti kamu.”

Dan sebaliknya. Saya juga bangga punya teman seperti kamu lho, Nis! :-)
Moga langgeng sama pacarnya yg sekelas di pascasarjana ya… 

Selama ini saya banyak membaca di blog orang-orang tentang pertemanan orang dengan rekan sekerjanya. Jadi pingin ikutan share ah.
Sebelum terjun di dunia kerja, tentunya saya sudah sering ber-patner dengan teman dalam organisasi, magang, KKN dan berbagai kepanitiaan. Namun, inilah pertama kalinya terjun di dunia kerja dan punya patner di dunia kerja. Saya share di sini karena banyak pelajaran berharga yang saya dapatkan selama ber-patner dengan dia.
Namanya Usnu, cowok yang usianya setahun di atas saya. Secara kebetulan, kami dapat penempatan sekolah barengan di Flores selama masa pengabdian setahun. Patner SM-3T yang satu sekolahan bareng saya ya cuma Usnu. Dia dari prodi Geografi dan saya dari BK.

Usnu adalah sosok yang bisa dibilang fenomenal di kalangan teman-teman..yes, because of something. Namun, terlepas dari opini banyak orang, terserah orang mau bilang apa. Menurut saya dia orangnya te-o-pe. Saya lebih mengenal dia karena berinteraksi di sekolah bareng. Inilah sisi unik dari Usnu yang jarang dimiliki oleh sebagian orang:
1. Dia menjaga ibadah sholat 5 waktu! “Sholat itu penting, Na. Apalagi kalau berdoa, ngaji diantara waktu maghrib sampai isya. Kuwi sering2 mbok lakoni wae…” katanya. Nggak sekedar menasehati, dia juga melakukannya sendiri.
2. Sangat setia sama pacarnya dan sangat bisa menjaga komitmen. Saya melihat foto pacarnya dipajang jadi wallpaper laptop dan hape. Dan pssst… di hape dan laptopnya nggak ada foto cewek laen selaen pacarnya dkk, saudaranya, ibunya. Pokoknya dia sangat setia dan menjaga komitmen. Usnu anti tebar pesona, menggombal dan berkata-kata mesra pada wanita lain. Dia ngabarin kalau dalam waktu dekat ini mau tunangan. Wah…saya senang mendengarnya!
3. Usnu memang individualis dan sangat idealis. Dia nggak mau kalo saya meng-copy laporannya. Dia rajin, perangkat pembelajarannya selalu jadi paling awal diantara 36 guru yang mengajar di sekolah ini. Kelihatannya ambisius dan mandiri ya? Hehe…Tapi, dia nggak suka cari muka, nggak mau menang sendiri, nggak serakah dan yang terpenting nggak menjatuhkan teman. Saya pernah menjumpai dalam suatu kegiatan ada seorang teman yang suka menjatuhkan rekannya agar dipuji. Hal tersebut sama sekali nggak saya jumpai dalam diri Usnu. Kami saling mendukung kalau di depan Kepsek dan guru lain.
4. Kami pernah berantem because of something. Yah…itulah masa-masa terberat saya di sekolah yang membuat saya waktu itu…tapi untunglah beberapa minggu kemudian bener-bener baikan lagi sampai akhir masa tugas. Walaupun mempengaruhi sikap pribadi, tetapi hal tersebut nggak mempengaruhi pekerjaan. Itulah yang membuat saya salut. Balik ke poin nomor 3, meskipun dalam kondisi berantem pun, dia nggak pernah menjatuhkan saya :-)
5. Dia itu sangat moody. Ups..tapi kalo lagi good mood, suer deh. Usnu sangat asik buat diskusi. Kami bisa betah ngobrol berjam-jam untuk bertukar pendapat tentang ini-itu. Hahaha. 
6.Usnu suka memakai metode pembelajaran yang kreatif. Cara ngajarnya oke banget.
7. Usnu pandai menjaga rahasia dan bisa dipercaya.
8. Sarannya oke. Dia selalu sampaikan kekurangan dari diri saya, dengan  cara yang baik dan nggak ada tendensi sok tau, iri, meremehkan maupun sok pintar dalam dirinya. Satu nasihat yang paling saya ingat dari dia adalah : “Jangan banyak mengeluh, Na!”
9. Orangnya mandiri, sanggup bekerja di bawah tekanan dan bisa tahan nggak ke kota dalam jangka waktu yang lama.

Itu penilaian subjektif saya lho :-)

Foto: Ina

Ragam olahan sate kambing dapat disajikan menjadi berbagai jenis masakan khas nusantara. Di Tegal, daging kambing juga memberikan suguhan sate kambing dan sop kambing yang memiliki cita rasa berbeda dengan daerah lainnya. Ketika Anda pergi ke Tegal, anda akan menemukan warung sate dan sop kambing khas Tegal yang bertaburan di seluruh penjuru daerah ini.  Daging kambing yang digunakan adalah daging kambing berusia di bawah lima bulan (balibul), bahkan banyak yang usianya masih di bawah tiga bulan (batibul).  Ya. Inilah santapan yang terkenal di Tegal, Jawa Tengah.
Kali ini, saya bareng bulik mengunjungi warung sate dan sop kambing balibul yang berlokasi di belakang PLN Slawi-Kabupaten Tegal. Nggak lama setelah memesan, menu pesanan kami datang. Nah ini dia, sate kambing dan sop kambing khas Tegal. Disajikan dengan bumbu sambal kecap serta tambahan irisan tomat dan bawang.  Satenya terasa sangat empuk dan gurih.  Kombinasi bumbu rempah yang digunakan dalam sop kambing juga terasa pas, tidak terlalu kental, menjadikan sop terasa meresap di lidah dan nikmat disantap panas-panas. Daging kambing yang digunakan untuk sop adalah bagian iga dan dekat tulang lunak. Kami juga memesan minuman teh khas tegal, yaitu Teh Poci. Aromanya dan rasanya segar dengan wangi teh yang alami menyempurnakan selera kuliner. Memang, selalu ada yang berbeda dari sajian daging kambing di berbagai daerah, termasuk Tegal. Walaupun mungkin hanya modifikasi dan takaran bumbunya yang berbeda. Namun, kreasi bumbu ini tentu memperkaya keanekaragaman kuliner di nusantara.

Mari makan! 


Price:
2 porsi sate kambing + 2 gelas teh poci + 2 porssi nasi + 1 porsi sop kambing = Rp.66.000
Ditraktir bulik. hehehe 
Lokasi : Dekat PLN Slawi, Tegal, Jawa Tengah