Senin, 26 Desember 2016

[Wisata Bogor] Air Terjun Bidadari, Tak Seindah Ekspektasi


Curug Bidadari

Hari Libur Maulid Nabi 2016, saya dan Kak Irma mengisi waktu dengan jalan-jalan di seputar Bogor. Maunya sih keliling Jayapura, tapi Doraemonnya ngga mau ngeluarin pintu ke mana saja hihihi. Sebelum ke Pasar Ah Poong(postingan klik di sini), kami penasaran sama yang namanya Curug Bidadari. Dari hasil googling, lokasi Air Terjun (Curug) Bidadari masih di wilayah Sentul Bogor. Dari fotonya juga menakjubkan. 


Kami mengandalkan peta di GPS. Rupaya jalan menuju ke sana meliuk-liuk naik dan naik. Untung kami naik motor. Mana bisa ngandelin naik angkot kecuali nyarter atau nunggu kami bikin trayek Cibinong-Curug Bidadari dulu :-p

“Waaaaah ini jalannya makin ke atas makin sepi ya. Mulus lagi. Good…good…biasanya jalanan ke curug kan jelek. Tapi ini bagus,” puji Kak Irma.
Pujian yang hanya berlangsung lima menit,pemirsa. Setelah itu dia menyesalinya :-p
Karena setelah memasuki gerbang Sentul Paradise Park, kami disambut jalan yang cukup curam, penuh bebatuan kerikil tajam dan tanpa dibalut aspal.

Nah lho, kena deh!

Ini baru kekecewaan pertama kami.

Sepanjang jalan berikutnya, banyak tarikan pungli sukarela. Yaitu orang-orang yang berjaga sambil membawa karcis parkir atau kardus untuk tempat menaruh uang. Ada lebih dari 5 orang lho.  Lokasinya di mana?
“Lima menitan lagi Neng. Lurus terus…” jawab bapak-bapak setelah menerima uang dua ribuan dari kami.
Saya harus berhati-hati mengendarai motor kalau tidak mau terjerembab saat menuruni jalanan sebelum akhirnya kami tiba di tempat parkir Curug Bidadari yang sesungguhnya.
Kami dikenai tarif tiket masuk Rp.40.000 per orang plus parkir motor 5000. Jadi total 85 ribu. 
rame
Rupanya, hari libur itu bikin objek wisata ini hampir jadi lautan manusia. Cuacanya cukup panas, tetapi air terjunnya serasa sejuk di kaki. Hanya ada satu air terjun di sana. Ada ornamen tangga dan bebatuan yang dibuat untuk memperindah lokasi. Juga sarana kolam bermain untuk anak-anak. Di tepian ada beberapa gazebo yang bisa digunakan pengunjung untuk duduk santai. Memang tak seindah ekspektasi.
kolam bermain
  Kami hanya sekitar setengah jam melihat-lihat sambil merendam kaki di sana. Cuaca terlihat mendung dan kami mengantisipasi segera beranjak dari situ.

Walaupun kecewa, Kak Irma tetap mau foto.“Rugi kali lah nggak ambil foto!”
Lumayan lah ada foto ngobatin kecewa. Setidaknya kami punya jawaban kalau sewaktu-waktu ada sanak saudara atau teman yang bertanya “Gimana tuh Curug Bidadari? Recommended nggak?”
Haha.

 Tarif masuknya bisa dibilang mahal karena ga sesuai dengan kepuasan yang didapatkan. Mungkin ada baiknya pengelola juga memberdayakan masyarakat sekitar supaya ngga marak pungutan liar alias pungli di sini.

 Mahalnya tarif Curug Bidadari semestinya diimbangi dengan baiknya fasilitas seperti perbaikan jalan menuju obyek wisata.
“Teh, ongkos parkirnya 5000,” pinta si tukang parkir saat aku hendak menyalakan sepeda motor.
“Lho, kan tadi uang 85 ribu udah termasuk parkir 5000 pak.” Protes Kak Irma.
“Itu kan parkir masuk area kantor, beda lagi sama parkir di curugnya,” orang itu memberikan alasan yang entah benar atau memang dibuat-buat.

Ya ampun, gerutu kami dalam hati. Pungli lagi, pungli lagi….

2 komentar:

hay. feel free to say anything, except SPAM :-D . i don't want to miss any comment and i will approve your comment here.

If anyone feel that I have"something wrong" in this article, please let me know immediately and i will repair it.