Rabu, 25 Maret 2020

Kulwap : Remaja dan Gadget

Free Kulwap


Disclaimer
Bismillah...

Sahabat, tentu kita sedih status tanggap bencana wabah ini diperpanjang, bahkan kabarnya libur sekolah anak-anak juga diperpanjang sampai 5 April 2020.

Namun kita harus tetap ikhtiar dan berusaha, agar upaya diliburkannya anak-anak dan diberlakukannya #SocialDistancing benar-benar bisa dilakukan secara maksimal dan berdampak pada pengurangan korban positif covid19 yang saat ini tren-nya terus bertambah.

Untuk mengefektifkan waktu dalam kondisi ini, kami dari Najmu Books Publishing membuka grup diskusi bagi orang tua, untuk membahas kehidupan remaja dan anak.

Insya Allah kita akan membahas:
1. #tips menjadi #orangtua #digital,
2. Menghadapi anak/remaja kecanduan gadget (game, film, sosial media dan konten porno)


Insya Allah yang akan berbagi dalam grup diskusi ini adalah orang yang kompeten dan sebagian hidupnya konsern berjuang dalam pendidikan dan perkembangan remaja, yaitu Mba Citra Retnani, S.Psi.

Grup diskusi ini gratis, dan bisa diikuti oleh siapapun. Insya Allah Diskusi dan belajar bareng akan dimulai besok, Selasa 23 Maret 2020

Ini ada grup diskusi dan belajar Najmu Books Publishing tentang Remaja dan Gadget bersama Citra Retnani Utami, S.Psi

Yang akan dibahas dalam grup diskusi dan belajar ini adalah:

1. Membahas 4 jenis kecanduan gadget (games, film, sosial media & konten porno)
2. Tips menjadi orang tua digital

Kelas akan dimulai pukul 19.30 WIB (24-02-2020). Jika ingin melanjutkan perkenalan bisa melalui wa.me/6281324437005. Terimakasih.

Bismillah. Kami ucapkan ahlan wa Sahlan kepada peserta diskusi dan belajar bersama tentang Remaja dan Gadget.

Bagi yang masih bingung, bisa basa deskripsi grup. Dan supaya lebih nyaman, perkenalan bisa dilanjutkan melalui wapri ke nomor yang tertera dlm deskripsi.

Mohon maaf jika tidak segera terjawab melalui wapri, namun insya Allah akan dibalas sesegera mungkin. 

JaazakUmullah Khairan Katsiro.

Diharapkan sahabat semua bisa mengikuti dengan rinci ilmu yang akan disampaikan mba Citra Retnani Utami, S.Psi (@citra retnani) dan aktif bertanya untuk meramaikan diskusi ini.

Insya Allah malaikat tak akan lupa menulis curahan pahala jariyah jika ada yang tercerahkan dari pertanyaan yang diajukan dan sharing yang disampaikan oleh sahabat semua.

Allah maha baik, ya? Bertanya saja bisa dapat potensi jariyah, insya Allah.

Bagaimanapun, ini adalah usaha kecil kita, memperkuat generasi pelanjut di dunia digital yang serba cepat ini.

Semoga Allah terima dan berkahi usaha kita.

Link undangan akan ditutup pukul 19.15 WIB dan kelas akan kita mulai pukul 19.30 WIB dengan dibimbing oleh partner hidup saya, istri saya, Diba Tesi Zalziyati, S.Psi (@Dibatesi Zalziyati ).

Sebelumnya saya mau memperkenalkan diri terlebih dahulu  : 

Nama : Diba Tesi Zalziyati, S.Psi 
Aktivitas : Istri, ibu rumah Tangga, Owner penerbitan indie dengan nama Najmu Books Publishing, Founder Komunitas menulis WrC dan Klub Buku #SUKABUKU juga mentor menulis di kelas-kelas Najmu Books lainnya, seperti NUSA, 30Hari300kata dan yang akan diadakan sebentar lagi Release Stres Dengan Menulis

FB : https://www.facebook.com/dibatesiz
Ig : http://www.instagram.com/dibatesiz

[19:35, 3/24/2020] +62 821-2177-5119: Remaja, oh Remaja

Sangat disayangkan, beberapa waktu yang lalu saya berselancar di internet ketika melakukan review buku Bukan Remaja Kaleng, apa yang saya dapatkan? 

1. Genk motor 
2. Kenakalan remaja 
3. Kecanduan gadget 

Dan berita buruk lainnya. 

Pertanyaan saya, begitu burukkah usia remaja? 

Hingga orang tua sudah mulai ketar-ketir ketika anaknya akan memasuki masa remaja.


 Hari ini seorang teman, dan salah satu penulis dari dari Najmu Books Publishing dari program #30hari300kata dengan karya terbarunya, Bukan Remaja Kaleng, akan berbagi pengetahuan mengenai Gadget dan Remaja. 

Berikut adalah profil beliau :


ecanduan game dan gadget marak di kalangan remaja di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Tingkat kecanduan yang dialamai bervariasi, mulai dari tahap ringan hingga akut.

Bahkan remaja dengan kecanduan akut terpaksa dirawat inap di RSJ.

Sebuah data mengejutkan dipaparkan Kompas.com. Data ini diambil pada tanggal 28 Oktober 2019.

-RSJ Bandung Barat, Jabar, menangani 11-12 pasien/bulan dengan rata-rata usia 7-15 tahun.

- RSJ Surakarta, Jawa Tengah, menangani 1-2 pasien setiap hari, usia rata-rata 15 tahun.

- RSJ Surabaya, Jatim, menangani 1-2 pasien/bulan. Usia pasien masih belasan tahun.

Menurut psikolog, setidaknya ada empat jenis kecanduan gadget:

1. Game online
2. Film
3. Video porno
4. Sosial media

Game online dan sosial media yang paling digandrungi remaja dan menyebabkan kecanduan.

Game yang dimainkan secara kelompok paling disukai remaja, karena dianggap dapat melampiaskan stres. Sebut saja Mobile Legend, GTA, dll

Sedangkan sosial media menempati urutan pertama penyebab stress pada remaja.

WHO telah memasukkan kecanduan game ke dalam jenis gangguan jiwa, kecanduan game dimasukkan ke dalam ICD dengan sebutan gamming disorder

Lantas dalam kondisi yang bagaimana remaja masuk dalam kategori gamming disorder ini? Setidaknya ada beberapa tanda.

1. Memprioritaskan main game daripada aktivitas penting lainnya.

Misalnya lebih memilih main game daripada sekolah dan belajar, sering membolos, nilai akademis menurun.

Bahkan untuk kebutuhan primernya juga dikesampingkan, tidak makan karena asyik bermain, tidak mau mandi, dan lain-lain.

2. Pemain game merasakan dampak buruk namun tetap melanjutkan bermain.

Karena durasi bermain game yang lama dan terus-menerus membawa dampak negatif terhadap tubuh.

Tak jarang pemain game merasakan keluhan fisik misalnya, mata perih memerah, sakit kepala, badan pegal-pegal, dan lainnya, tetapi mengabaikannya sekalipun tanda bahaya itu dapat mengancam nyawa. 

Tentu kita pernah mendapati berita remaja meninggal saat bermain game online karena kelelahan setelah berhari-hari bermain tanpa henti.

3. Terjadi perubahan yang drastis, pola tidur, kepribadian.

Pola tidur mengalami perubahan drastis, bangun menjelang siang dan tidur larut malam. Dalam beberapa kasus ada yang bermain hingga belasan jam/ hari.

Remaja menjadi mudah marah dan agresif, terutama jika dilarang mengakses gadget. Bahkan hingga menyerang orang lain dan merusak barang-barang di sekitarnya.

Bentuk agresifitas tidak hanya berupa serangan terhadap orang lain, beberapa remaja punya kecenderungan menyakiti diri sendiri.

Sering berbohong agar dapat bermain game, bahkan sampai mencuri agar mendapatkan uang untuk membeli kuota internet dan mendapat aneka fasilitas di dalam game.

4. Adanya dorongan bermain game yang tidak dapat dikendalikan.

Awalnya remaja bermain untuk mendapatkan kesenangan, tetapi jika sudah kecanduan mereka bermain untuk memenuhi dorongan yang tidak dapat dikendalikan. Pikirannya tidak dapat lepas dari game.

Mereka sadar dan merasa tersiksa tetapi tidak mampu melepaskan diri dari dorongan bermain yang terus merong-rong kehidupannya.

5. Mengganggu kehidupan personalnya.

Pemain game cenderung suka mengurung diri di kamar, menghindari aktivitas sosial, perubahan kepribadian dan perilaku yang drastis juga menjadi penghambat dalam menjalin hubungan sosial yang sehat.

6. Depresi saat tidak bisa mengakses gawai.

Remaja yang sudah kecanduan gadget merasa hampa dan sedih saat tidak bisa menggunakannya.

Beberapa pasien di RSJ juga punya kecenderungan ingin bunuh diri.

Jadi Ayah Bunda, jika ananda setiap hari bermain 3 jam saja, kemudian tampak tanda-tanda tersebut selama setidak-tidaknya selama setahun, maka sudah masuk kecanduan.

Lantas bagaimana sebaiknya? Rasanya di era milenial hal yang hampir tidak mungkin memutus hubungan remaja dengan gadget.

Bagaimana pun gadget ibarat dua sisi mata uang, ada positif dan negatifnya. Tergantung bagaimana cara memakainya.

Berikut ini beberapa tips agar remaja tetap bisa menggunakan gadget dan mengurangi potensi kecanduan.

1. Menjadi teladan dalam penggunaan teknologi.

Remaja lebih mudah menangkap apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar.

Kita sebagai orang tua perlu menjadi teladan yang baik dalam menggunakan gadget.

Misalnya kita membatasi durasi bermain gadget, konsekuensinya kita juga perlu disiplin dengan aturan tersebut.

Idealnya ada waktu khusus dalam keluarga benar-benar bebas gadget, momen tersebut dapat digunakan untuk saling mengobrol dan melakukan aktivitas bersama.

2. Membangun komunikasi yang hangat dengan remaja.

Membangun kepercayaan anak kepada orang tua tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. 

Jika komunikasi yang hangat dibangun sejak dini, anak-anak lebih mendengar orang tuanya.

Kepercayaan modal utama 'mengendalikan' remaja.

3. Menetapkan aturan bersama tentang penggunaan gadget

Sebelum memutuskan memberikan gadget kepada remaja, kita perlu menanamkan terlebih dahulu tentang cara menggunakannya yang baik.

Bisa dengan cara berdiskusi, tanyakan alasannya mengapa perlu gadget? bagaimana cara yang baik memakainya? dan sebutkan konsekuensi yang harus ditanggung jika melanggar kesepakatan.

Termasuk mengatur waktu pemakaian, agar remaja tidak kecanduan gadget.

Waktu maksimal 2 jam/hari, itu pun dibagi beberapa sesi agar mata tidak lelah. Kurang dari waktu tersebut lebih baik agar remaja lebih produktif melakukan aktivitas lain.

Beberapa orang tua lebih disiplin menerapkan aturan hanya boleh menggunakan gadget di hari libur dengan durasi tertentu, ini juga baik.

4. Melakukan pengawasan terhadap remaja tentang pemakaian gadget.

Dunia maya bukan tempat yang aman, banyak kejahatan terjadi di dunia maya. Cyberbullying, perdagangan manusia, dan produsen pornografi mencari mangsa anak dan remaja melalui jaringan internet.

Saat kita memberi remaja fasilitas gadget maka kita juga harus siap melakukan pengawasan.

Pada remaja cara pengawasan tentu tidak sama dengan anak yang usianya lebih kecil. Jika pada anak yang kecil komunikasi bersifat satu arah, pada remaja komunikasi bersifat dua arah. Memposisikan diri kita sebagai teman.

Jika memungkinkan sebaiknya orang tua berteman dengan anak di media sosial dan mengetahui dengan siapa mereka berteman.

5. Mengenali ketertarikan remaja dan dengan siapa dia berteman.

Mengetahui kesenangan remaja dapat menjadi pintu masuk membangun kedekatan. Mengenali karakter lingkaran pertemanannya juga perlu dilakukan orang tua.

Pertanyaan dari Para Peserta

1. Assalamualaiku Uni, terima aksih kesempatannya.

Nama : Mia
Domisili : Bandung
Pertanyaan : 
Halo Mbak Citraa 😍
Berikut pertanyaan saya. Bagaimana menyeimbangi sisi positif dan negatif penggunaan gadget utk remaja?

Jawaban
Walaikum salam. Sebelum kita memutuskan mengizinkan remaja memiliki gadget sendiri kita perlu melihat kesiapan dan kematangannya dulu, Bunda.

Agar kelak saat gadget ada di tangannya remaja dapat menggunakannya untuk hal-hal yang positif.
Bagaimana cara melihat kesiapan remaja? Bisa kita lihat dari perilakunya sehari-hari.

Misalnya saat kita pinjamkan gadget apakah pola tidurnya jadi berubah? Tidur larut malam atau bangun kesiangan.

Apakah dengan dipinjamkan gadget remaja sering lupa waktu dan mengabaikan kewajibannya? Misal tidak mau belajar dan mengerjakan PR.

Atau jika saat dipinjamkan gadget interaksi dengan keluarga berkurang, cenderung cuek, dan menjawab singkat-singkat karena asyik dengan gadget?

Jika iya, maka bisa jadi ketika memiliki gadget sendiri akan lebih banyak dampak buruknya. Karena belum ada kesiapan dari Ananda.

Seperti itu, Bunda ...

Pertanyaan:
Intinya, dilihat dulu kesiapan dan kematangan anak kita gitu ya, Mbak?
Umumnya dari usia berapa bisa dilihat itu Mbak?

Jawaban :
Iya, Bunda. Karena anak yang belum matang jika diberi gadget hanya akan digunakan untuk kesenangan. Mereka belum bisa membedakan mana yang penting dan yang tidak.

Adapun kesiapan masing-masing anak berbeda, orang tuanya yang lebih paham dan peka.

Tetapi secara umum anak punya gadget sendiri di usia 18 tahun, meskipun itu juga bukan patokan utama.

Karena ada yang sampai usia 25 tahun masih belum matang dan belum bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri.


2. assalamu'alaikum.wr.wb

nama : Lussi R
Domisili : Cibinong-Bogor
pertanyaan : apakah benar remaja yg kecanduan pornografi atau tayangan porno akan merusak jaringan saraf otaknya? bagaimana kita bsa mengetahui anak tsb sdh kecanduan?

Jawaban: 
walaikum salam. Baik Bunda, terima kasih telah mengajukan pertanyaan.

Betul sekali Bunda. Kecanduan pornografi dapat merusak otak. Bahkan menurut penelitian kerusakannya setara dengan cedera akibat kecelakaan berat.

Anak yang kecanduan pornografi dapat mengalami beberapa gejala. 

Ada perubahan kepribadian, jadi lebih murung dan pendiam karena merasa bersalah yang disimpan di dalam hati.

Suka mengurung diri sendirian di kamar karena ingin menikmati tayangan pornografi tanpa diketahui orang.

Berbohong karena tidak ingin orang lain mengetahui kesenangannya.

Berpengaruh juga ke prestasi akademis, karena biasanya anak yang kecanduan pornografi sulit melepaskan diri dari pikiran porno. Akibatnya sulit konsentrasi.

Pertanyaan:
apakah suka berbicara kotor kepada lawan jenis bisa juga dikatakan akibat kecanduan melihat tayangan poronografi? bahkan sudah kearah pelecehan verbal?

Jawaban:
Betul Bunda. Remaja yang kecanduan pornografi ada masanya acting out mereka tidak hanya sampai ke tahap angan-angan, tetapi sudah ada dorongan kuat untuk melakukan tindakan tersebut ke dunia nyata.

Bisa berupa perkataan yang tidak senonoh atau pelecehan lain yang lebih besar dan mengarah ke kriminalitas.

Mengapa demikian? Karena bagian otak yang mengatur rasa malu dan moral sudah rusak karena gempuran tayangan pornografi. Sehingga mereka tidak malu dan  tidak mampu mengendalikan dorongan seksnya.


3. Nama : Sari Ratnaningsih
Domisili : Bandung
Pertanyaan :

1. Saya seorang pendidik di lembaga PAUD, bagaimana caranya memberi pengertian pada orangtua siswa agar tidak membiasakan mengajak anaknya bermain tiktok?

2. Bagaimana cara membatasi anak bermain gadget tanpa anak itu merasa terpaksa untuk berhenti bermain?

Jawaban :
Baik Bunda.

1. Masalah gadget memang memerlukan kerjasama dari semua pihak, baik anak, sekolah, guru, dan orang tua.

Edukasi ke orang tua murid bisa dilakukan salah satu caranya dengan mengadakan seminar parenting di sekolah sehingga orang tua terbuka wawasannya dan teredukasi.

2. Untuk usia PAUD komunikasi yang dilakukan masih bersifat searah, Bunda. Sembari diberi pengertian bahwa bermain gadget ada batasnya, apa akibatnya jika terlalu lama, dan memahamkan mereka bahwa gadget itu dipinjamkan jadi saat kita mengambilnya akan lebih mudah.

Dan yang tidak kalah penting orang tua perlu kreatif membuat aktivitas pengganti misalnya bermain bersama, membuat kerajinan tangan, dll.


4. Nama : hemi
Domisili : bangka
Pertanyaan : anak sy kuliah di bdg, sedang sy tdk bs memantaunya dr bangka, sy bekli gadget android pas kuliah semestr 4 trnyata prestasinya menurun..dan sll trlambt dlm apapun..tgs kuliah, trmasuk skripsi dan sidang,  sholat jg sll trlambat berjamaah k masjid..dll hrs bgm sy sebagai org tua, sy baru tahu skrg saat plg liburn

Jawaban :
Baik Bunda. Terima kasih sudah bertanya. 

Jika dilihat dari usia, ananda termasuk yang sudah boleh memiliki gadget sendiri.

Dan melihat kondisinya yang jauh dari orang tua memang perlu dibekali untuk sarana komunikasi.

Adakalanya yang sudah usia dewasa pun lupa waktu jika sudah menggunakan gadget.

Sebelum membicarakan dengan ananda ada baiknya Bunda diskusikan dengan Ayah, tentang permasalahan Ananda.

Kapan saat yang tepat dan bagaimana cara menyampaikan.

Menurut Bunda Elly Risman, akan lebih efektif jika ayah yang mengajak anak bicara. Karena ayah lebih dominan otak kirinya, bicara lebih terstruktur, dan singkat sehingga lebih mudah dipahami.

Demikian Bunda, semoga Ananda selalu dalam lindungan Allah


5. Dian K.
Anak saya yang pertama, laki-laki usia 17 tahun... Sekarang tertutup dan jarang sekali mau sharing dg saya.. Tapi kalau sama teman-temannya itu sepertinya seru sekali.. Dekat sekali.. Hp kalau maghrib di kamar saya. Itu Peraturannya. Sejauh ini ga nemu yang aneh aneh.. Kecuali bahasanya yang "aduhai" 😢Ada anjir dan hewan lain... Bahkan saya lihat ada temannya yg menyebut kelamin.. (maaf) tp itu di group anak ya.. Saya mau negurnya gimana? aku mesti gimana ya mba... Sudah saya tegur juga

Jawaban : 

Baik, Bunda Dian. Senang bertemu kembali di sini 😊

Dalam membangun komunikasi dengan remaja memang ada seninya. Kata Bendri Jaisyurahman kenapa namanya remaja? Karena rem aja jangan ngegas.

Ada tips berkomunikasi dengan remaja dari Bunda Elly Risman yang bisa kita pakai:

1. Tidak dimulai dengan to the point ke masalah. Mulai dulu dari hal yang umum.

2. Berdiskusi dengan pasangan tentang masalah yang akan dibicarakan kepada anak.

3. Melihat jenis kelamin anak.  Anak laki-laki maupun perempuan yang harus berbicara adalah ayahnya. 

karena:

a. Ayah penanggung jawab keluarga, kita berikan dia porsi sesuai dengan tanggung jawab dan kekuasaannya.

b. Ayah otak kirinya lebih kuat, sebagaimana anak laki-laki. Jika bicara sudah merumuskan tujuan dan kalimatnya pendek-pendek sehingga sesuai dengan cara kerja otak remaja.

Sedangkan ibu dominan otak kanan, kalau bicara muter-muter. Mentok kiri, mentok kanan. Cara komunikasi seperti ini tidak disukai remaja.

 c. Ayah harus punya kedekatan dengan anak-anak. Ayah yang tidak terlibat dalam pengasuhan menyebabkan anak mudah terjerumus dalam pornografi dan seks bebas.


6. Nama : Lia Apriani
Domisili : Bandung

Pertanyaan : Bagaimana cara mengajak pasangan dan keluarga inti kompak dalam memanfaatkan gadget? Dan adakah  standar maksimum (kecanggihan) gadget yg sebaiknya diberikan kepada anak remaja?

Jawaban 
Terima kasih sudah bertanya Bunda Lia 😊

Kekompakan keluarga dalam melaksanakan aturan penggunaan gadget sangat penting dan besar pengaruhnya.

Akan lebih baik jika Ayah Bunda menyediakan waktu khusus di rumah bebas gadget, misalnya dari jam berapa sampai jam berapa tergantung kesepakatan bersama.

Waktu bebas gadget ini dapat digunakan untuk mengobrol, melakukan aktivitas bersama, dan membangun kedekatan.

Orang tua saat menetapkan batasan berarti juga harus siap menjaga jarak sejenak dari gadget.

Standar HP yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan anak Bunda. Apakah dengan hp yang featurenya canggih sudah pasti dipakai semuanya untuk keperluan jika tidak justru mubazir.


Penutup
Tidak ada orang yang mengalami masa pengasuhan yang sempurna karena orang tua hanya manusia biasa yang tak luput dari kesalahan.
Tetap semangat Ayah Bunda 😊
Semoga apa yang kita dapatkan malam hari ini mendapatkan keberkahan. Aamiin ya rabbal alamiin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

hay. feel free to say anything, except SPAM :-D . i don't want to miss any comment and i will approve your comment here.

If anyone feel that I have"something wrong" in this article, please let me know immediately and i will repair it.