[BunSay 6] Tantangan 15 Hari Zona #1 Day 1

 


Selamat datang di Pulau Bentang Petualang Bunda Sayang Batch 6. Akhirnya tiba juga Tantangan di Zona 1 dimulai. Zona 1 ini temanya Komunikasi Produktif. Ada 15 hari tantangan di mana sobatualang harus menemukan ‘temuan’ di setiap harinya sebagai tugas refleksi diri. Tugas boleh diunggah di berbagai platform bahkan di dokumen pribadi. Link-nya disetorkan di akun iip.kelasin.com .

Untuk hari pertama tantangan zona 1 sebagai pembukaan , aku tuangkan di sini. Temuanku mengenai pengenalan karakter pasangan lebih mendalam selama hampir 3 tahun pernikahan kami. Memang karakter kami banyak perbedaan, demikian juga pola komunikasi serta kebiasaan kami.

Aku teringat dulu, di awal pernikahan. Aku belum menemukan kunci yang tepat untuk mengungkapkan perasaan sehingga ujung-ujungnya sering sebel. Saat itu aku masih tinggal di kosan 3 petak di salah 1 kecamatan di bogor dan suami lebih memilih stay di rumah ortunya di Jakarta. Kondisi aku hamil, suami menginginkan tiap weekend aku naik kereta ke Jakarta karena menurut beliau di sana lebih dekat dengan pusat kota. Sedangkan di kosan 3 petak : ngga ada fasilitas seperti pendingin ruangan atau lemari es. Aku yang dalam posisi mengandung merasa letih Jumat sore atau siang sepulang sekolah harus mengejar kereta naik ojek ke stasiun lalu berangkat ke Jakarta.

Memang saat itu aku merantau dan orang tuaku di Cilacap.

 Lalu Minggu sore baru suami mengijinkan aku balik ke kosan…hmmm aku sendirian harus berhadapan dengan kereta yang sering penuh. Terkadang orang egois ngga memberikan bangku ke ibu hamil (ditolak saat minta kursi pernah beberapa kali aku alami walau sudah secara halus memintanya). Untunglah ada petugas kereta atau penumpang lain yang empatinya besar dan menolongku.

Add caption

Terkadang kalau Minggu ada acara keluarga di keluarga suami atau hujan, aku berangkat naik kereta sendiri ke Cibinong dari Jakarta Senin habis subuh dengan resiko terlambat 30 menit ke sekolah (sudah diijinkan oleh guru piket/kepsek).

Mengingat pengalaman itu, aku pernah mengungkapkan ketidaksetujuanku dan berakibat suami marah. Sempat setelah itu aku memilih cuek saja karena mengalah dan menghindari pertengkaran. Namun, aku menyadari bahwa aku harus memilih diksi komunikasi yang mampu menumbuhkan rasa empati dalam diri suami. Bukan malah mengalah demi menghindari pertengkaran.

Lalu persoalan kecil juga membuatku kesal seperti Ketika hamil besar dan berada di stasiun aku meminta suami cari escalator, sedangkan di depan mata kami adanya tangga manual (eskalatornya sekitar 100 meter di depan mata) dan ternyata hal tersebut membuat suami tidak suka karena membuang waktu. Perbedaan pendapat terjadi : aku menginginkan jalan kaki cari eskalator lalu naik eskalator sedangkan suami ingin naik tangga manual di depan mata. Akhirnya , kami sepakat bertemu di lantai atas. Suami tetap naik tangga manual sedangkan aku berjalan dulu mencari eskalator.

 Poin lainnya yang didapat:

Aku yang kata orang-orang sudah penyabar ini memang harus belajar lebih sabar dalam menyikapi pasangan yang berbeda watak sebab berumah tangga terdiri dari dua kepala yang berbeda. Harus tetap kendalikan emosi diri sendiri walau suami sedang sangat emosi. Setelah emosi suami reda barulah aku bisa menyampaikan ketidaksetujuanku. 

Memang itu nggak mudah. Perlu waktu yang tidak singkat untuk membuat suami menyadari posisi dan perasaan istrinya.


Tidak ada komentar

hay. feel free to say anything, except SPAM :-D . i don't want to miss any comment and i will approve your comment here.

If anyone feel that I have"something wrong" in this article, please let me know immediately and i will repair it.