Jumat, 02 Maret 2012

Menembus Panasnya Ende

Perjalanan hidup episode ini membawa saya ke Ende, sebuah kabupaten di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Liburan sekolah tiba mulai 22 Desember 2011. Siswa libur maka saya sebagai guru pun libur. Hehehe. Seusai penerimaan raport, membuatku ingin menghabiskan liburan di Kota Ende saja ketimbang di desa penempatanku. Yach…sekalian menuntaskan jiwa petualang dalam diri saya. Dengan kata lain, ingin jalan-jalan. 
Ada 3 tempat yang saya kunjungi di Kabupaten Ende.
Berkelana di Pulau Ende


Tempat pertama bernama Pulau Ende. Luasnya hampir sama dengan pulau nusa kambangan.Namun, jangan bayangkan ini adalah pulau buangan tempat para residivis bermukim seperti Pulau Nusa Kambangan. Pulau Ende ini lumayan banyak penghuninya. Dengan menaiki kapal motor dari pelabuhan kota Ende, Pulau Ende bisa ditempuh dalam waktu sekitar 60-100 menit tergantung kondisi lautan. Saya pergi dengan 14 orang teman. Hari itu, kami berangkat ke Pulau Ende jam 09.30 WITA. Kami menaiki kapal motor dengan tarif murah, hanya 5000 rupiah per orang. 
 
berpose di depan SD inpres Pulau ende

merapat ke pulau ende. we are coming!

Satu setengah jam kemudian, kami sampai di Pulau Ende. Memang sih, ini bukan pulau wisata. Kami memang ingin sekedar jalan-jalan saja untuk menjawab rasa ingin tahu. Mumpung sedang merantau di Ende, gunakan waktu untuk mengunjungi tempat-tempat yang tak terduga sebelumnya. Uniknya, 100 % penduduk di pulau Ende ini adalah muslim. Berbeda jauh dengan penduduk Kabupaten Ende di luar pulau yang 70% katolik. Mayoritas rumah penduduk di Pulau Ende terbuat dari rumah kayu sederhana, tetapi terlihat apik dan menawan dengan kesederhanaannya itu. Di sini gersang, tidak ada toko, tidak ada jalan raya dan tidak ada SMA. Hanya ada 1 buah SMP di pulau yang banyak penduduknya ini. Jalanannya hanya berupa gang-gang kecil saja. Di spot-spot tertentu (pinggir pantai), sinyal telepon seluler kuat. Sudah terdapat listrik PLN, tetapi hanya menyala setengah hari yaitu pada malam hari saja. Pagi dan siang hari tanpa listrik.

Di pulau ini, kami menyempatkan diri sebentar untuk melihat proses pembuatan kain tenun khas ende. 

Penduduk pulau ende masih sering kesulitan air bersih. Kalau air pantai ya tentu saja banyak. Hehehe. Air sumur terasa agak asin karena letaknya yang berdekatan dengan bibir pantai. Cuaca di pulau ini sangat panas. Tentunya, banyak ‘pemandangan’ sekitar yang unik bagi kami, membuat kami saling memandang dan akhirnya tertawa. Misalnya, orang memakai masker (pupur) dan berjalan-jalan. Justru di sinilah seninya. Menikmati pemandangan berupa kebiasaan di lingkungan baru adalah suatu yang menarik bagi kami. 

Supaya nggak ketinggalan kapal motor, pukul 12.45 WITA kami beranjak dari Pulau Ende untuk kembali menuju pelabuhan Kota Ende. Sesampainya di pelabuhan Kota Ende, kami sudah lapar. Kami langsung capcus jalan kaki ke pasar untuk beli bakso atau gado-gado. Sambil mengunyah bakso, aku terbayang pemandangan penduduk di Pulau Ende. Mayoritas penduduk kurang mampu. Ah. Sekian puluh tahun Indonesia merdeka, di tengah berjamurnya bangunan megah di perkotaan, nunj auh di sana masih banyak masyarakat yang bertahan hidup dalam keterbatasan air, listrik maupun fasilitas hidup lainnya. 
Mengenang Sejarah di Rumah Pengasingan Bung Karno
Tempat kedua yang kukunjungi di Kabupaten Ende adalah rumah pengasingan Bung Karno.

Udara panas dan matahari terik masih menyelimuti Kota Ende. Siang itu, saya menemani Dian (rekan satu program) ke toko yang menjual buku pelajaran. Saya iseng bertanya kepada yang jual buku, “ Pak, katanya di Kota Ende ada rumah pengasingan Bung Karno. Itu di sebelaah mana ya?”

Dia menjawab, “Ohhhh…itu dekat dari sini. 200 meter di belakang toko ini, Mbak.” (Dia orang Jawa juga, jadinya manggil saya Mbak)

Wah, kebetulan banget nih! Kuajak Dian jalan kaki ke rumah itu setelah kami pulang dari toko. Cuaca masih sangat panas,membuat kami seperti mandi keringat. Mampir di rumah pengasingan Bung Karno, kami seperti merasakan suasana sejarah di masa lampau. Di rumah itu, ada peralatan makan, foto-foto dokumentasi, lukisan dan kamar tidur Bung Karno. Tidak dikenakan tarif khusus untuk berkunjung kemari, cukup mengisi kotak seikhlasnya saja. Setelah merasa cukup melihat-lihat, kami memutuskan pulang ke kos teman naik ojek.

Pendakian Menuju Danau Kelimutu

Selanjutnya, tempat ketiga yang kukunjungi adalah Danau Kelimutu. Di penghujung Desember 2011, saya dan teman-teman lain mengunjungi Danau Kelimutu. Berbekal iuran Rp. 50.000 per orang, kami menyewa 2 buah bus DAMRI kecil. Sekitar pukul 07.00 WITA, kami berangkat ke sana. Tidak lupa saya membawa kamera digital. Mungkin hanya sekali seumur hidup saya berkunjung kemari. Sehingga berfoto adalah momen penting yang sayang jika dilewatkan. 

Perjalanan dimulai dari jam 07.00 WITA, start dari Kota Ende. Sepanjang jalanan berliku, berkelok dan naik turun. Sampai di lokasi sekitar jam 09.30 WITA. Harga tiket masuk yang tertera di karcis adalah 2500 per orang. Nah, murah bukan?

Danau Kelimutu tak lepas dari sejarah cerita di baliknya. Ada tiga danau beda warna yang warnanya berubah-ubah menyesuaikan kondisi-kondisi tertentu. Ketiga danau itu bernama danau Tiwu Ata Polo, Tiwu Nua Muri Koo Fai dan Tiwu Ata Mbupu. Untuk menuju danau yang puncak, kami harus berjalan mendaki. Udara di kaki danau relatif sejuk dan agak dingin. Berbeda dengan suhu udara di puncak yang sangat panas dan tercium bau belerang. Bau belerang yang cukup menyengat membuat kami terbatuk-batuk.


Waktu kami datang, kami melihat danau berwarna hitam, biru muda dan hijau. It’s soooo amazing. Sekitar pukul 12.30 WITA, kami memutuskan untuk kembali pulang ke Kota Ende. Di parkiran banyak penjual kopi, teh, susu dan popmie. Harga secangkir minuman 5000 rupiah, sedangkan seporsi popmie 7000 rupiah. Tidak mahal untuk ukuran daerah wisata.

Sayonara Kelimutu Lake!

Demikian cerita perjalanan saya pada musim liburan anak sekolah. Sepertinya, masih ada tempat-tempat lainnya yang akan saya kunjungi selama saya berada di tanah perantauan ini.

Kamis, 01 Maret 2012

Malam Tahun Baru 2012 di Ende

Selalu ada warna baru di malam tahun baru. Kalau pada malam tahun baru 2011 aku menghabiskannya dengan jalan-jalan di Yogyakarta (sambil nunggu petasan pergantian tahun di Tugu). Tahun 2010 di Cilacap, tapi nggak kemana-mana. Tahun 2009 di Kaliurang bersama teman-teman, makan sate dan jalan-jalan. Nah, malam tahun baru 2012 ini di sebuat kota kecil di pulau Flores, yaitu Ende.

Sekolah tempat penugasanku libur natal dan habis pembagian raport. Liburnya lama, yaitu 2 minggu. Aku memanfaatkan waktu liburan untuk membuat perangkat pembelajaran semester genap dan pergi liburan di kota Ende.  Apalagi jaraknya dekat, hanya satu jam dari desa penempatanku. Asyik!

Malam ini aku, Dian, Mbak Erma dan Julia menginap di rumah Bapa-mama asuh kami di jalan marilonga, kota Ende, Pulau Flores, NTT. Mama Asuh (Ine= mama dalam bahasa ende) memasak ayam untuk kami. Alhamdulilah, makan ayam, sesuatu banget. Daging ayam nggak dijual bebas di sini, bos. Harus pesen dulu untuk motong ayam.

Jam 8 malam, rumah tetangga sudah rame orang berkumpul. Musik pun dimulai. Semakin malam, makin ramai dan seru. Musik diputar kenceengggggg bangeettt. Musiknya kayak poco-poco gitu. Trus orang-orang pada berjoget ria. Nggak mau ketinggalan, kamipun ikut serta joget-joget ria. Yihaaaaa .....

Untungnya acara nggak ekstrim. Sederhana, full musik dan meriah. Nggak ada tawaran hidangan babi, anjing dan minuman keras. Yang terasa malah nuansa kekeluargaan.Disini memang mayoritas katolik, yaitu 70%. Namun, toleransi mereka sangat tinggi terhadap kaum muslim.

Tepat pukul 12 malam, percikan kembang api terdengar dan terlihat di langit. Itu kembang api yang dinyalakan di pinggir jalan. Rumah bapa-mama asuh sih masuk gang.

Kami tidur sekitar pukul 2 pagi. Malam tahun baru yang spesial nih. Saya akan menghabiskan sepanjang tahun 2012 di tanah perantauan bernama kabupaten Ende. Tahun baru, nambah umur. Berarti makin pendek jarak antara umur dengan liang kubur.

Akan ada kejutan apa saja di tahun 2012 ini? Nantikan saja. Karena hidup selalu penuh kejutan!

Mama-bapa asuh

joget ala poco-poco

yippiiiiiiii

muahahahha
Wida mengabariku lewat fesbuk : "Na, kami di sini taun baru bakar-bakaran jagung lho. Ada Rio ma pacarnya, ada bayu juga. Rame nih. Sayangnya nggak ada kamu. Cepet pulang ya Na.. :-( "
Oww..rupanya Wida sedang main ke Jogja.
See you next time sahabat2ku, aku akan pulang akhir taun 2012 membawa pengalaman baru :-)