Kamis, 20 Desember 2012

Potret :Jogja Malam Hari

Foto atas : foto kota jogja dilihat dari samping jendela pesawat Garuda Denpasar-Jogja.
Foto bawah: ngambil dari fb nya teman: zaenal» foto kota Jogja dilihat dari Bukit Bintang (sebenernya saya juga punya foto Jogja dari bukit bintang...tapi hasilnya gelap total. Jadi foto ini ngambil dari fb teman deh).
Pada intinya: mirip kan :) Jogja is beautiful… i love you full JOGJAAAA

Bullying si Kaya dan si Miskin

diambil dari kisah salah seorang pengajar muda .


Abstraksi

Perbedaan tingkat perekonomian keluarga menjadi pemicu masalah yang cukup pelik di kalangan siswa SD kami, mulai dari meminta teman untuk mengerjakan PR sampai dengan bullying teman sebayanya. Sungguh ironis menurut saya, melihat seusia mereka yang masih anak-anak sudah bisa memanfaatkan teman-temannya dengan cara yang salah dan sangat buruk.

Latar Belakang

Saya mengajar di SDN 01 Lebak Situ, daerah pedesaan namun tingkat perekonomian masyarakatnya cukup baik. Akan tetapi, hal ini membuat saya sedih karena perbedaan tingkat perekonomian antar warga yang cukup besar memicu dampak yang buruk dalam menghadapi pergaulan siswa di sekolah. Di sekolah saya, ada 2 tipe siswa dilihat dari tingkat perekonomian keluarganya, yaitu yang tergolong pada sebutan si “kaya” dan si “miskin”.

Permasalahan

Siswa Sekolah Dasar
Hari ini ruang kelas terlihat ramai. Ketua kelas sibuk menertibkan teman-temannya untuk siap melaksanakan pelajaran. Diawali dengan mengabsen siswa terlebih dahulu. Tiba-tiba salah seorang siswa saya meminta ijin keluar untuk ke toilet.
Hampir 30 menit, siswa itu keluar dan tidak kembali ke ruang kelas. Akhirnya, saya temui dia di toilet dan ternyata dia tidak ada di toilet. Kemudian saya mencarinya ke kantin sekolah, ternyata dia ada di situ bersama-sama teman sebayanya yang berbeda kelas. Saya panggil anak itu, kemudian saya tanyakan sedang apa yang dia lakukan di sana bersama teman-temannya.
Awalnya dia tidak mau menceritakan. Karena saya desak terus dengan berbagai pertanyaan, akhirnya dia mengakui bahwa dia disuruh oleh teman-temannya itu untuk mengerjakan PR nya dengan imbalan akan diberikan uang. Untuk menyebutkan jumlah besarannya, mungkin tak seberapalah tetapi dengan cara yang seperti ini sungguh keterlaluan bagi saya. Akhirnya, siswa tersebut saya bawa masuk kembali ke dalam kelas untuk mengikuti pelajaran.

Mengatasi Masalah

Untuk mengatasi permasalah itu, saya mencoba membiasakan siswa untuk turut berbagi di kelas terhadap sesama dengan tak memandang dia itu miskin atau kaya. Di dalam pelajaran yang memerlukan kerja kelompok, saya berusaha menggabungkan para siswa dengan latar belakang yang berbeda (dilihat dari tingkat perekonomian keluarganya, kemampuan akademis, dan keaktifan siswa). Hal ini dimaksudkan agar siswa tidak membedakan satu dengan lainnya dan dapat menghargai setiap usaha siswa, terutama dalam mengerjakan tugas. Saya juga menekakan pada seluruh siswa agar tidak terjadi hal-hal yang tidak baik/ buruk.

Lesson Learned

Pendidikan karakter yang disisipkan

Di sini, penulis bisa menyampaikan pendidikan karakter apa yang disisipkan selama proses belajar. Misalnya, belajar bekerja sama dengan cara kerja kelompok, belajar antri, dsb.
Saya menanamkan sikap toleransi dan menghargai setiap manusia baik dia memiliki segi ekonomi kehidupannya kaya ataupun miskin, pintar ataupun bodoh, dan lain-lain.

9 Things I Like About Frida


Nama lengkapnya Frida Ayu Vebriana. Saya pertama kali kenal dia di kampus pas pendaftaran ulang SPMB. Dia ama kakak tertuanya sedang nyari kos-kosan. Trus saya menawari agar dia kos sekomplek ama saya aja…
Pas awal-awal kenal, kami nggak langsung banyak bicara. Setelah lebih dari sebulan, baru deh kerasa banget akrabnya. Kami sama-sama dari Kabupaten Cilacap, dan sama-sama tinggi sehingga sering dijuluki anak kembar. Kami punya laptop yang kembar karena belinya samaan dan sepatu yang kembar tapi beda warna.
Sudah 2 bulan saya pulang dari Flores dan belum juga bisa bertemu dengan sahabat yang satu ini. Makanya, saya membuat 9 daftar keistimewaan dia di mata saya, buat obat kangen. Kenapa 9? Karena 9 adalah angka favorit saya! Hehehe.

1. Frida itu temen yang penyabar, dewasa, kalem, santai, dan cuek pada hal-hal yang nggak penting. Dalam hal ini sama kayak upik. Dia bisa menenangkan saya di saat saya nangis lebay melihat sebuah nilai mata kuliah 4 SKS yang nggak memuaskan buat saya. Dia bisa tetap tenang saat menjelang ujian praktikum tes psikologi , adik saya dan kawannya yang dijadikan testee belum tiba. Padahal saya udah panik.

2. Frida nggak langsung marah-marah atau nyindir kalo ada sikap saya yang salah. Sebagai teman, dia akan mengingatkan pelan-pelan.

3. Saya itu tipe cewek moody. Frida bisa memahami sikap saya yang kadang ngeselin. Memahami keinginan saya yang kadang freak. Saya paham pasti Frida pernah sebel ama sikap saya, tetapi setelah mengetahui saya luar dalam dan kekurangan saya, dia nggak pergi meninggalkan saya. Padahal, temen dia kan bukan saya aja. a friend who can accept me just the way I am is hard to find. So I’m lucky to have her as my best friend.

4. Dia ada di saat susah dan senang. Pernah karena sedang merasa tertekan dan nggak nyaman sama sesuatu (yang jelas bukan karena Frida), saya cari kesibukan sendiri dan ada fase yang memang saya jarang main dengannya karena sibuk. Tapi, bukan berarti putus kontak.

5. Kami pernah kluntung-kluntung nggak jelas. Jalan kaki dari kos-kampus-perpus-naik angkot- nyampe gramedia-baca-baca-jalan kaki ke galeria-lanjut ke Gardena-jalan kaki-makan di warung steak- pulang ke kos. Pengalaman lucu tak terlupakan.

6. Dia itu orangnya rapi banget. Pernah suatu hari dia dateng ke kos dan ngeliat kamarku nggak rapi. Langsung deh diberesin ama dia. “Aku nggak bisa makan kalo tempat ini nggak rapi!” katanya. Hahaha. Kalo gitu sering-sering aja dateng,beb. Biar aku nggak usah ngerapiin kamar!

7. Kami pernah ngayal bareng pas semester 1. Saya bilang: “Da besok kita wisudanya samaan lho ya. Ntar sama-sama cumlaude aja ya Da. Biar duduk di kursi depan.” Khayalan saya lumayan terwujud. Kita sama-sama cumlaude. Sayangnya, saya wisuda duluan. Di auditorium saya nggak duduk sebelahan sama dia :-( . Itulah sebabnya pas yudisium saya nggak bilang kalo hari itu hari yudisium saya, sebab dia nggak ikut dalam yudisium saya. Rasanya ada yang kurang….! Tapi salutnya lagi, dia sportif! Lihat, di sisi lain dia pun bisa tetap bahagia datang dan melihat saya memakai toga. Dia adalah sosok yang setia dalam suka maupun duka. Saat saya sedang sedih, dia sabar ngedengerin curhatan, keluhan, omelan dan tangisan lebay saya. Saat saya senang dan sukses, dia pun tetap kasih dukungan dan senang melihat keberhasilan sahabatnya :-)

8. Dia temen yang asik banget dan betah diajak jalan berlama-lama di mall walaupun nggak borong. Beli seperlunya aja. Maklum jaman mahasiswa, guys.

9. Last but not least, I wish Frida still become my true–best friend forever. Pada dasarnya saya bukan orang yang suka dengan sengaja menyakiti dengan orang lain. Misalnya nih, pas balik ke Jawa, saya nggak sms frida. Saya Cuma ngapdet status via Fb aja sebagai ‘woro-woro’ alias pemberitahuan. Soalnya situasi saat itu nggak memungkinkan untuk saya ngabari semua orang yang dekat dengan saya. Beberapa orang yang tau saya pulang setelah ngeliat aktivitas di Fesbuk pun menghubungi, salah satunya Frida. Dia bilang: “Inaaa kamu kok pulang nggak ngabari aku sih? Hiks…kamu nggak anggep aku sahabatmu ya?” katanya via BBM yang tentu saja setengah bercanda dan setengah kecewa. Hehehe…ya maaappp, gitu jawab saya. Satu lagi, saya tipe orang yang fleksibel dan seringnya spontanitas kalo mau ketemu temen. Nah, prediksi saya kan dalam jangka waktu dekat ini belum bisa ketemu Frida makanya saya nggak ngabarin dia. Eh ternyata langkah saya yang nggak basa-basi itu salah.Hehehe..tapi senengnya nih, Frida itu bisa ngertiin alasan saya .Frida selalu bisa memahami arti di balik sikap dan tindakan saya itu. Bukan seperti seorang teman yang tiba-tiba aja sebal,sensi dan ngasih cap hitam dengan mengabaikan penjelasan saya dan nggak mau klarifikasi. 

So, nyari sahabat yang tulus kayak Frida itu susah! She is one of my priceless friend for me :-)

Membiasakan Murid untuk Percaya Diri


Abstrak

Tulisan ini berisi pengalaman belajar saya bagaimana menumbuhkan kepercayaan diri siswa. Selain itu, tulisan ini berisi nilai-nilai apa yang didapat dari proses belajar ini.

Latar belakang

Anak-anak murid saya adalah anak yang pintar. Sayangnya mereka sering kali mengeluh “Bu tidak bisa !”, “Bu susah !”. ketidak percayaan diri inilah hambatan terbesar dalam proses pembelajaran. Tidak ada hal yang tidak mungkin dilakukan jika kita percaya dulu. Walaupun kelihatannya pekerjaan ini sangat sulit diselesaikan. Itulah yang ingin saya tanamkan pada siswa-siswa saya. Memupuk rasa percaya diri pada diri anak tidak mudah. Tidak seperti mengajarkan suatu materi. Butuh proses dan konsistensi. Oleh karena itu, saya membuat peraturan kelas yang tujuannya memupuk rasa percaya diri siswa.

Melatih Kebiasaan Baru

Ilustrasi
Anak-anak ini pada awalnya pemalu dan kurang percaya diri. Bukan berarti mereka tidak bisa. Tapi mereka sudah pesimis dari awal. Untuk melatih kepercayaan diri mereka, saya membuat peraturan kecil.
Setiap anak yang berkata “tidak bisa” di kelas harus memasukan uang ke celengan. Awalnya ada kata “yaaaa” kecewa dari anak-anak. Anak-anak dipaksa keluar dari zona nyamannya untuk belajar, belajar, belajar. Belajar itu prosesnya tidak nyaman. Namun hasil belajar itu akan merubah perilaku siswa.
Dari anak-anak yang pemalu, minder, kini berubah menjadi anak yang lebih percaya diri, lebih optimis. Ya, it works ! mereka berhasil keluar dari zona nyamannya.
Oh ya, uang celengan yang terkumpul itu disumbangkan untuk anak-anak yatim di lingkungan mereka. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Peraturan ini selain melatih kepercayaan diri anak-anak juga melatih jiwa social anak-anak.

Lesson Learned

Menumbuhkan kepercayaan diri anak tidak mudah. Anak-anak itu unik dan harus berhati-hati, karena salah sedikit (salah berkomunikasi, salah perlakuan), bukan kepercayaan diri yang didapat namun kebalikannya.
Pengalaman ini bukan hanya anak-anak yang belajar, tapi saya. Saya belajar untuk bersabar, menikmati proses belajar anak-anak. Saya juga belajar untuk mempercayai anak-anak ini. Cepat atau lambat anak-anak ini akan berubah lebih baik, lebih percaya diri, lebih optimis.

Selasa, 04 Desember 2012

Kuliner Tegal : Sate dan Sop Kambing Balibul


Foto: Ina

Ragam olahan sate kambing dapat disajikan menjadi berbagai jenis masakan khas nusantara. Di Tegal, daging kambing juga memberikan suguhan sate kambing dan sop kambing yang memiliki cita rasa berbeda dengan daerah lainnya. Ketika Anda pergi ke Tegal, anda akan menemukan warung sate dan sop kambing khas Tegal yang bertaburan di seluruh penjuru daerah ini.  Daging kambing yang digunakan adalah daging kambing berusia di bawah lima bulan (balibul), bahkan banyak yang usianya masih di bawah tiga bulan (batibul).  Ya. Inilah santapan yang terkenal di Tegal, Jawa Tengah.
Kali ini, saya bareng bulik mengunjungi warung sate dan sop kambing balibul yang berlokasi di belakang PLN Slawi-Kabupaten Tegal. Nggak lama setelah memesan, menu pesanan kami datang. Nah ini dia, sate kambing dan sop kambing khas Tegal. Disajikan dengan bumbu sambal kecap serta tambahan irisan tomat dan bawang.  Satenya terasa sangat empuk dan gurih.  Kombinasi bumbu rempah yang digunakan dalam sop kambing juga terasa pas, tidak terlalu kental, menjadikan sop terasa meresap di lidah dan nikmat disantap panas-panas. Daging kambing yang digunakan untuk sop adalah bagian iga dan dekat tulang lunak. Kami juga memesan minuman teh khas tegal, yaitu Teh Poci. Aromanya dan rasanya segar dengan wangi teh yang alami menyempurnakan selera kuliner. Memang, selalu ada yang berbeda dari sajian daging kambing di berbagai daerah, termasuk Tegal. Walaupun mungkin hanya modifikasi dan takaran bumbunya yang berbeda. Namun, kreasi bumbu ini tentu memperkaya keanekaragaman kuliner di nusantara.

Mari makan! 


Price:
2 porsi sate kambing + 2 gelas teh poci + 2 porssi nasi + 1 porsi sop kambing = Rp.66.000
Ditraktir bulik. hehehe 
Lokasi : Dekat PLN Slawi, Tegal, Jawa Tengah