Jumat, 30 November 2018

Persalinan Pertama




Siapa yang paling tangguh diantara kami bertiga? (Ayah, Bunda, atau Sarah?)
Jawabannya, Sarah :)
Banyak temanku tau, kalo selama kehamilan aku ni tergolong aktif kemana-mana. Pada 6 bulan awal kehamilan, aku masih belum mutasi dan ngekos di sebuah kontrakan 3 petak di Cibinong. Lokasi kamarku itu di lantai 2 lho. Bahkan aku naik motor tiap hari. Tiap weekend aku naik KRL ke Jakarta. Aku kalo jalan-jalan dan nongkrong di mall juga sampai berjam-jam. Aku tetap masuk sekolah tanpa absen seharipun di jam kerja. Aku tetap ngerjain kerjaan rumah bersama suami. Intinya aku tetap kesana-kemari.  Sarah tetap kuat di rahimku.



Berjuang Demi Dua Detak



Dua hari sebelum lahiran, aku masih ikutan seminar BK. Sampai akhirnya ketuban pecah dini kejadian di usia kehamilanku 37 minggu hari pertama. Subuh itu, hari ketigaku cuti kerja. Rasanya kayak ngompol cuy. Bening, ngalir mulu. Suami nganterin aku ke IGD Puskesmas. Setelah dicek dengan kertas lakmus, iya bener itu ketuban. Sampai siang dicek bolak-balik nggak ada bukaan, aku dirujuk ke RSIA Budi Kemuliaan. Pengalaman pertama naik ambulans cyin!

Dicek bukaan dengan dua jari bidan masuk ke organ intim itu, nggak nyaman banget. Apalagi belum ada bukaannya….

Ibuku langsung naik kereta dari Cilacap. Kalo Bapak, kebetulan lagi di Jakarta. Setelah hampir 12 jam nggak ada bukaan, aku harus ngejalanin tahapan induksi. Aku deg-degan, kabarnya induksi itu sampai 2-3 kali lipat sakitnya dari persalinan normal sebab mulesnya dipacu. Induksi pertama, dengan serbuk obat yang dimasukin ke alat vital. Okelah masih bisa ditahan mulesnya. Tapi semalaman mulesnya bikin nggak bisa tidur. Besoknya habis subuh belum ada bukaan. Trus induksi kedua dan sampai agak siang baru nambah ke bukaan dua.

Segitu mulesnya baru bukaan dua gaes wkwkwkw

Sempet pengen nyerah, pengen sesar. Aku agak was-was bayiku kelamaan di dalam karena ketubannya ngalir terus. Tapi dari hasil rekam detak jantung bayi (CTG) masih oke. Keluarga menyemangati kalo aku bisa normal.

Induksi ketiga pake infus. Akhirnya bukaanku perlahan nambah. Di bukaan 5, rasanya nyeri banget. Suamiku yang lagi istirahat buat mandi segera nyusul ke ruangan. Aku siap-siap mau dibawa ke ruang bersalin. Waktu aku liat ibuku, aku nangis…nangis bukan karena mules nggak karuan. Tapi inget kalo aku banyak salah ke ibu :) Padahal ibu tulus banget ke aku.

Aku katakan aku pasrahkan semuanya, aku ikhlas kalo proses lahiranku harus gini. Dalam hati aku mohon ampun sama Allah, kalau aku terlalu banyak berharap yang mungkin bukan takdir menurut-Nya. Aku paham, sekuat dan serajin apapun usahaku selama hamil (ikut senam hamil misalnya), tetaplah Allah yang memegang peranan. Jadi yang perlu aku lakukan adalah berbaik sangka pada-Nya. Nggak henti aku berdoa supaya Allah selamatkan anakku. Aku katakan janinku calon anak yang baik dan dia nggak pernah nyusahin aku selama kehamilanku ini, jadi aku mohon Allah memudahkan kelahirannya.

Keberhasilan induksi itu hanya 50%, kalo gagal ya disesar.

Lemas banget rasanya. Berkali-kali bidan ngingetin cara ngejan yang baik, yang juga diajarin di senam hamil. Yach aku udah kehabisan tenaga buat teriak nahan efek induksi hehehe bikin aku ga fokus ama arahan bidan. Aku ingin segera lihat babyku.  Aku benar-benar sudah sampai tahap ikhlas dan pasrah dengan ketentuan Allah. Aku yakin Allah pasti baik padaku dan anakku.

Bukaan 8 suamiku jadi korban kegaranganku di ruang bersalin. Bukaan 9-10 detak jantung janinku satu-satu. Karena tenagaku makin berkurang, akhirnya dokter mutusin buat nyoba jalan vakum. Jalan lahir digunting deh.  Alhamdulilah berhasil sehingga nggak harus operasi sesar.Akhirnya...setelah hampir 12 jam ketuban pecah dini dan hampir 24 jam proses induksi, Sarah lahir pada 6 September 2018 jam 15.15 WIB.
Welcome to the world, Sarah Azizah Paramitha.
Benar orang bilang, dijahit itu nggak sesakit menahan kontraksi. Hahaha….
Ibu-ibu muda banyak yang nanyain ke aku.
“Kamu trauma nggak melahirkan?”
Enggak. Itu udah kodrat. Masalah rasa nyeri dan proses yang kualami, ya..itu udah terlewati. Kalo dengan cara tersebut bisa membuka jalan untuk kami bertemu dengan si kecil, why not?
Hanya nantinya di kehamilan berikutnya, aku bakal ngurangin aktivitas pecicilanku.
Eh, tapi kapan Sarah mau punya adik ? :-D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

hay. feel free to say anything, except SPAM :-D . i don't want to miss any comment and i will approve your comment here.

If anyone feel that I have"something wrong" in this article, please let me know immediately and i will repair it.