Sabtu, 04 Mei 2013

Bersyukur, Berusaha, Beruntung, Bahagia!


Saya dilahirkan di Yogyakarta, 23 tahun silam. Hanya mencicipi hidup di Yogyakarta selama hampir 2 tahun, saya dibawa pindah oleh orang tua ke Lombok, Nusa Tenggara Barat karena SK PNS Bapak di sana. Di Lombok, saya menjalani masa kecil yang bahagia. Tentu banyak suka-dukanya, tetapi lebih banyak kenangan manisnya. Saking indahnya sampai-sampai memori masa kecil tersebut tidak hanya tergambar di deretan album foto saja, melainkan juga lekat di otak.


Saya memiliki kedua orang tua yang sangat perhatian atas perkembangan anaknya, tetangga-tetangga satu kampung yang sudah menganggap kami seperti saudara, seorang adik yang saya sayangi, saya mencicipi masakan-masakan pedas khas Lombok yang menggoda lidah, berkeliling Pulau Lombok nan eksotis. Rasanya tidak seperti sedang di perantauan. Lombok sudah mendarah daging, seolah saya memang berasal dari gumi sasak itu. Tidak ketinggalan guru-guru di sekolah dasar yang sangat peduli dengan saya. Saya masih ingat betapa senangnya saya tiap mendapat honor dari lomba cerdas cermat dan lomba bidang studi yang kerap saya ikuti di SD. Saya memamerkannya pada orang tua dan orang tua menyuruh saya untuk menabungnya. Atau...kebahagiaan itu muncul ketika Ibu pulang dari kantor dan membawakan majalah yang di dalamnya terdapat tulisan atau karya saya yang dimuat.

Kebahagiaan itu muncul ketika saya mendapat hadiah paket buku dan uang saku dari SMP saya di Lombok atas sebuah prestasi kecil. Padahal menurut saya, banyak teman-teman lain yang lebih pintar. Saat saya menginjak masa pertengahan SMP, orang tua pindah ke Cilacap, Jawa Tengah. Saya menghabiskan masa remaja saya di kota ini. Sewaktu SMA, bisa dibilang saya salah jurusan masuk ke IPA. Hahaha...butuh perjuangan berat untuk melaluinya sampai akhirnya lulus Ujian Nasional dengan nilai yang sangat memuaskan. Padahal, saya menjalani Ujian Nasional dalam kondisi sakit thypus.
“ Wow, amazing!Kok bisa ya? Perasaan, temen-temen lain yang lebih pintar nilainya juga segini...” itu yang terlintas di benak saya saat menerima hasil ujian nasional.

Demikian juga saat masa-masa kuliah S1 di Jogja. Momen-momen mendapatkan beasiswa dari kampus, KKN PPL, nilai-nilai perkuliahan, Yudisium dan wisuda yang benar-benar di luar dugaan. Saya nggak pernah berharap tinggi-tinggi, tidak pula seambisius teman-teman lain, tetapi Tuhan dengan segala keajaibannya memberikan yang lebih untuk saya.  Bahkan, beberapa orang teman kampus nggak menduga.  Bagaimana bisa seorang Ina yang biasa saja bisa meraih semua itu?

Saya berasal dari keluarga sederhana. Dulu semasa kuliah S1, saya juga bukan mahasiswa berprestasi di kampus. Dikenal dosen?Tidak. Pandai mengakrabi dosen?Tidak. Populer? Ah, biasa saja.

Saya hanya sedikit meniru tipsnya Danang A.Prabowo yang terkenal sebagai si pembuat jejak. Kalau saya sih, menjulukinya sebagai “a lucky man”. Danang adalah seorang yang semasa menjadi mahasiswa hobi menuliskan 100 impiannya di sebuah kertas, tidak peduli teman-temannya mengejeknya. Apa yang terjadi? Perlahan, satu per satu impian Danang tersebut menjadi kenyataan.

Saat kuliah, saya memiliki banyak impian yang saya tulis di kertas empat tahun silam. Beberapa diantaranya tidak tercapai. Sisanya, terwujud menjadi nyata. Diantaranya, ingin duduk di deretan depan saat wisuda, lulus kuliah tepat waktu, mendapatkan beasiswa, memenangkan minimal 1 lomba menulis, mengajar setahun di pelosok negeri dan kuliah lagi dengan gratis.  Alhamdulilah pada bulan Oktober 2012 kemarin, sebuah buku antologi yang memuat satu tulisan saya telah terbit dan berjudul "Simfoni Balqis". Benar Paulo Coelho bilang bahwa untuk setiap niat baik, alam semesta akan bersatu padu mewujudkan jalannya.Ah!  The lucky women? Yes, I am one of them! 

Sebenarnya, hidup saya tidak seberuntung yang dilihat oleh orang lain. Hidup saya juga pernah dihantam badai dan masalah bertubi-tubi. Hanya saja, kecenderungan kita seperti pepatah “rumput tetangga lebih hijau dibanding rumput pekarangan sendiri.”  Padahal, kalau mau ditelaah lebih lanjut, rumput tetangga lebih hijau karena pupuknya lebih berkualitas, lebih rajin dipangkas dan dirawat sehingga terlihat indah dipandang. Sama halnya seperti hidup ini. Orang akan lebih sukses jika ia mau berusaha lebih keras dan rajin, bukan semata-mata mengandalkan faktor keberuntungan saja.
Saya Beruntung bisa kemari. (Kampung Ada Wologai Tengah-Ende, 2012)


Saya merasa beruntung telah menjamah tanah Flores selama setahun. Saya tidak hanya sekedar mengajar, melainkan menimba ilmu langsung dari sekolah kehidupan yang tidak saya dapatkan selama 4 tahun mengenyam bangku perkuliahan. Saya bisa melihat bagaimana kearifan lokal begitu melekat dalam masyarakat. Saya juga menikmati pemandangan alam yang sangat memukau dan alami di Flores, termasuk menjelajah daerah wisatanya. Dalam usia 23 tahun dan pernah merasakan hidup di Lombok, Cilacap, Yogyakarta, Flores dan kini Surabaya itu merupakan anugrah luar biasa bagi saya. Saat ini saya menjalani kuliah Pendidikan Profesi Guru di Surabaya selama setahun dengan aturan yang ketat dan jadwal yang sangat padat. Tidak ketinggalan, tugas overdosis. Namun, saya merasa beruntung karena biaya hidup dan kuliah gratis dari beasiswa. 

Yeah. I am 23 years old and feel so blessed with my lucky life :)

Saya percaya, hidup ini sudah ada yang mengatur. Beruntung atau tidaknya semua tergantung dari bagaimana orang mengambil hikmah dari peristiwa dalam hidupnya dan mensyukuri kebahagiaan-kebahagiaan yang telah Tuhan berikan, sekecil apapun itu. Saya tidak perlu banyak memandang betapa hijaunya rumput tetangga sebelah. Saya lebih memilih untuk menyirami, memberi pupuk dan merawat rumput di pekarangan sendiri agar tidak kalah hijau!

Di luar sana, banyak sekali orang yang punya prestasi segudang di usianya yang masih 23 tahun. Jauh, jauh di atas saya. Namun, saya memilih untuk mensyukuri pencapaian yang telah saya raih agar termotivasi untuk terus berusaha lebih baik.

Teruntuk Ayu Citaningtias pemilik blog My Fingerprints, semoga di usianya yang ke 23 lebih sukses lagi dengan bisnis butiknya “Gendhiss Boutique” dan makin eksis usaha “Nyonya Gendhiss” nya. Keren lho...cewek seusia kamu udah punya usaha double kayak gitu. Maju terus dan makin berkembang ya ^^  Untuk blog nya, moga lebih eksis lagi. Hmmm blog Ayu ini cenderung ke blog personal tapi isinya komplit ya. Banyak FF nya, catatan keseharian yang ditulis dengan bahasa yang manis (so kesannya nggak curhat-curhat amat karena ada pesan morilnya), eh ada hijab style juga.  

And...teruslah eksis bikin flash fiction. Cerita-cerita fiksi pendekmu itu nggak jarang bikin aku terkesiap karena twist nya di akhir cerita mengejutkan. Wah. Nggak lupa dengan kehidupan di dunia nyata : cinta, karir, keluarga, persahabatan, studi ke depannya makin baik lagi. Satu lagi pencapaianmu yang bikin aku salut: di usiamu yang masih 23 kamu udah punya buku antologi berjudul "Harapku Untukmu". Teruslah meramaikan dunia perbukuan dengan tulisanmu,tahun-tahun mendatang harus terbit buku-buku lainnya lho Yu?? Hehehe !

Kesamaanku dengan Ayu, sama-sama belum nikah, suka nulis, mengidolakan guru (kalo idola ayu adalah Bu Kas, kalo idolaku adalah ibu wali kelas XII IPA 3 dulu), usia sepantaran tapi nyemplung juga di grup KEB yang mayoritas anggotanya adalah para emak keren. Doyan lele lela juga? Hahaaa..itu emang enak. Di Jogja juga ada cabangnya. Yuk bikin KTP palsu biar nama kita LELA, trus dapat makan gratis deh. Hahaha.
       
     Eh ngomong-ngomong Ayu pengen segera nikah ya? Kok minta didoakan moga cepet nikah? Hahahha amieenn...okey deh Yu. Tulang rusuk nggak akan tertukar dengan pemiliknya. Semoga cepat menuju dermaga cinta...mengarungi bahtera rumah tangga. Nikah muda itu bukan penghalang prestasi kok! Gak masalah dengan LDR asal komitmennya sudah kuat :) Apalagi Ayu juga punya usaha sampingan yang bisa jadi sumber penghasilan tambahan.

Ah tu kan Yu...di usia 23 tahun kamu tuh udah banyak berkarya. Yang penting pede, maka kamu akan keliatan tambah cantik dengan fisik yang telah Allah anugrahkan untukmu! ^^

23 Tahun giveaway

14 komentar:

  1. Mbak Ina, semakin aku baca blog kamu semakin merasa terinspirasi. kita hanya beda dua tahun dan rasanya mbak Ina sudah melakukan buanyaaaaaak hal sampai pernah mengajar di NTT ya? (bener ga daerahnya)selama setahun. sudah pernah tinggal di pulau lain!! Ommo...keren sekali mbak. Iya aku pernah liat videonya Danang yang akhirnya bisa sampai di luar negeri itu khan? Keren sekali emang diaaaa...Jadi pingin nulis di kertas tentang mimpi2. masalahnya adalah aku nggak tahu jels besok mau jadi apa. Translator, public relation officer, tour guide? hehehe...*malahcurhat
    Semangat mbak Ina, pasti bisa jadi guru yang sukses kedepannya!:D

    BalasHapus
    Balasan
    1. ah hari2mu juga terbingkai dengan manis kok mey.. dari cerita2mu. yach..masing2 hidup kita sbenernya indah klo kita menikmatinya ^^
      so, find your passion! nanti klo dah lulus juga ada jalan /pilihan utk mey, semangat ya dear!

      Hapus
  2. Everybody is Luck with his/her own Luck. Menurutku keberuntungan itu tidak datang sendiri, itu dikasih sama Tuhan kalau kita minta. Keberuntungan itu tidak ada, itu ditakdirkan. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. takdir..tapi juga harus usaha.
      gitu kan, pak dokter?
      :)

      Hapus
    2. kan sekarang dokter muda.
      kan calon. hwehehe

      Hapus
  3. hayooo siapa yang mau maju, ni mbak Ina juga dah siapkan ????????

    BalasHapus
  4. Terima kasih mbak Ina sudah ikutan giveawayku... terima kasih buat doa2nya..
    ditunggu pengumumannya ya mbak :)

    BalasHapus
  5. Ina ikutan GAnya juga ya? aku juga ikut heheheh
    wah baca pengalamanmu yang dulu2 sangat banyak ya n semuanya berkesan, keren deh kmu Na :)

    BalasHapus

hay. feel free to say anything, except SPAM :-D . i don't want to miss any comment and i will approve your comment here.

If anyone feel that I have"something wrong" in this article, please let me know immediately and i will repair it.