Minggu, 13 Desember 2015

Fun Teaching di MI Miftahussholah 2, Kampung Cibuyutan~Kabupaten Bogor



Mendengar kata Kabupaten Bogor, sebelum berdomisili di dalamnya saya mengira bahwa semua lini daerahnya rame dan maju. Rupanya, Kotamadya Bogor dan Kabupaten Bogor merupakan dua daerah dengan pemerintahan yang berbeda. Di kabupaten (yang memiliki 40 kecamatan) tempat saya berpijak saat ini, masih ada daerah-daerah perkampungan yang bisa dikatakan tertinggal dari segi pendidikan maupun perkembangan daerahnya.
 
TnT #2
 Salah satunya adalah Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MI) Miftahussholah 2 yang berlokasi di di Kampung Cibuyutan, Desa Sukarasa, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor. Kampung ini terletak diantara lereng Gunung Lingga dan Gunung Sungging. Sekitar 3 tahun yang lalu, bangunan sekolahnya belum permanen seperti ini. Namun, bantuan dari berbagai elemen komunitas datang dan turut andil dalam membangun kondisi yang lebih layak.



Perjalanan saya ke sana dalam rangka ikutan kegiatan Traveling and Teaching #2 (TnT #2) komunitas 1000 Guru Bogor. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk kepedulian terhadap pendidikan di wilayah tertinggal di Bogor. Info tentang 1000 guru bisa sobat simak di webnya http://seribuguru.org/ . Nah...berikut ini cuplikan perjalanan plus-plus saya! Plus fun teaching,,, plus traveling maksudnya....

Welcome to Kampung Cibuyutan!
 
Jam menunjukkan pukul 12 malam saat rombongan tiba di Desa Sukarasa. Dengan moda kendaraan 2 truk tentara, rombongan menuju kemari. Kegiatan Traveling and Teaching #2 ini dilaksanakan di Kampung Cibuyutan, Desa Sukarasa, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor pada 13-15 November 2015. Kami berangkat jam 10 malam dari Kota Bogor, setelah berjam-jam sebelumnya Kota Bogor dan sekitarnya diguyur hujan deras.

Kendaraan berhenti di Desa Sukarasa. Kami semua turun dan berkumpul untuk briefing menuju lokasi. Panitia mengontak beberapa warga asli sebagai penunjuk jalan. Akses menuju Kampung Cibuyutan memang terisolir dan sulit ditempuh dengan kendaraan. Apalagi abis hujan gini, jalanan yang mendaki dan terjal licin. Ditambah beberapa bagian jalan yang dipenuhi batu kerikil tajam. Mungkin ke depannya hendak diaspal.  
Jalan kaki menuju Kampung Cibuyutan

Setelah berjalan kaki 1,5 jam bermodal senter (ngga ada penerangan sama sekali!) sambil membawa tas masing-masing, rombongan tiba di rumah penduduk yang dijadiin sebagai homestay. Ada 3 rumah, 2 untuk putri dan 1 rumah buat nginap rombongan putra.  Hanya ada 1 kamar mandi/wc yang dipakai rombongan putri aja. Sang empunya rumah menyambut kami dengan hangat.

Fun Teaching sekaligus Menyelami Nuansa Kampung Cibuyutan

Setelah terpejam sekitar 2 jam, saya terbangun dan ngeberesin barang.  Jam 6 pagi rombongan makan pagi. Makanan dipesan dan dimasak oleh pemilik rumah. Ngga ada pasar di sekitar sini. Adanya warung kecil. Warga kampung biasa memanfaatkan tumbuhan seperti singkong, pakis, daun melinjo yang ada di kebun untuk diolah menjadi masakan. Sekilas saya menangkap momen kampung ini bener-bener masih alami. Banyak rumah masih memiliki bangunan semi permanen. Listrik hanya ada jam tujuh hingga 12 malam. Ketersediaan air sangat minim. Pemilik rumah masih menggunakan tungku untuk memasak. Fasilitas umum? Saya engga melihat ada puskesmas di sekitar situ :-(
Untunglah sinyal udah bisa dijangkau di area ini.

Jika ada keperluan mendesak, barulah warga turun gunung. Ongkos ojek senilai 50-60 ribu tergolong mahal. Seringkali warga memilih jalan kaki. Profesi pemuda di sini adalah penambang emas, tetapi jika musim hujan beralih menjadi petani.
Lokasi sekolahan
Jalan kaki ke sekolahan
 Pukul 07.00 kami berjalan kaki 10 menitan menuju MI Miftahussholah 2 yang lokasinya agak di atas bukit. Lengkap deh dengan kaos kuning kami yang seraga. Kegiatan dimulai dengan upacara bendera dan sambutan dari Pak Mista, guru sekolahan. 
Upacara
Upacara

Terik matahari terasa menyengat. Beliau adalah penduduk asli Kampung ini dan sudah mengajar lama walau dengan honor tak menentu. Pak Mista tak kuasa menahan air mata saat menyampaikan sambutan. Ada nada sedih, mengingat kondisi sekolah ini seolah masih ‘terjajah’ jaman.

Nah, kelar upacara...agenda selanjutnya adalah koordinasi pembagian kelas. Ada selipan acara mengenai penyuluhan kesehatan gigi untuk adik-adik. Kelompokku berjumlah 5 orang kebagian ngajar kelas.....1. Ngajar anak usia kelas 1 SD/MI bukan hal yang mudah dan menguji ketelatenan maupun kesabaran. Kendala utamanya adalah segi bahasa...anak-anak biasa berkomunikasi dengan Bahasa Sunda sedangkan kami berlima ngga ada yang ngerti basa sunda. Hehehe...tapi di situlah serunya! Ada pengalaman baru...apalagi anak-anak kelas 1 banyak yang titipan usia TK. Belum mengerti baca tulis.
 
Jumlah siswa sekolah ini 56 orang tersebar 6 rombel kelas 1 sampai 6. Hanya ada 3 ruang kelas yang digunakan bergantian dalam Kegiatan Belajar Mengajar sehari-hari. 1 ruangan lainnya digunakan sebagai perpustakaan sekaligus ruang guru.Sekolah ini memiliki 1 kepala sekolah dan 4 guru. Tersedia tempat wudhu serta 3 kamar mandi/wc.

 “Saya sudah ngajar di sini sejak sekolah ini masih dinding kayu Neng...sampe sekarang berdinding tembok,” ungkap Pak Mista saat saya ngobrol dengan beliau di sela jam istirahat.
“Dapat bantuan dari yayasan ya Pak sekolahnya?”
“Kebanyakan mah dari komunitas...ada dari media...dari kelompok mahasiswa...ada juga dari Pertamina. Tanahnya dari wakaf tanah Pak Lurah. Alhamdulilah Neng, saya seneng ada yang peduli sama sekolah ini. Saya ngga mikirin honor saya berapa, yang penting ada yang bisa saya bagi berguna buat anak-anak di sini...”

Pak Mista, tetaplah mengabdi. Kampung Cibuyutan butuh sosok pionir pendidikan sepertimu. Walau tanpa bekal ijazah pendidikan tinggi, tapi ada balasan Allah kelak atas segala amal jariyahmu...

Perpisahan
Makan siang panitia, pengurus dan peserta TnT #2

Jam istirahat dimulai jam 12 siang sampe ashar. Sorenya rombongan kembali ke sekolah untuk games kelompok bersama adik-adik MI Miftahussholah. Adik-adik sudah ganti baju pake baju olahraga. Tampak banyak ibu dari adik-adik ini ikut hadir nganterin anaknya dan nungguin anaknya dari kejauhan. Seruuu deh game kelompok-nya banyak ketawa-ketawanya. Nah, menjelang magrib acara penutupan dilaksanakan dengan pemberian kenang-kenangan dari rombongan untuk sekolah. Salah satunya berupa foto presiden dan wapres, karena keseluruhan ruangan di sekolah ini tadinya belum memiliki foto pemimpin negara. Acara perpisahan dilanjutin dengan nyanyian adik-adik MI Miftahussholah...nyanyi lagu perpisahan n  salam-salaman bikin sebagian kakak-kakak mengusap air mata. Aku gimana? Ya jelas donk...melankolis gini hohoho....
Pak Mista saat memandu anak buat persiapan nyanyi jelang perpisahan

Malamnya rombongan mengadakan malam api unggun. Isinya perkenalan singkat masing-masing dari kami dan dilanjutin jaga lilin idupin lilin. Satu per-satu dari kami melemparkan lilin ke api unggun, sambil menguatarakan suatu hal yang ingin dicapai.

Ini cuplikan klip yang dibuat oleh Ka Angga n bisa disimak karena udah di-upload ke Youtube.
 
Lelah menuju Kampung Cibuyutan terbayar sudah dengan pengalaman menengok pendidikan dan kondisi masyarakat di sini. Kampung Cibuyutan masih sangat membutuhkan uluran bantuan pemerintah maupun semua lembaga dari berbagai lini. Semoga keterbatasan kondisi tidak memupus harapan anak bangsa di sini untuk maju. Maju membangun daerah mereka. Karena mereka adalah aset bagi pembangunan Kabupaten Bogor kelak.

Sesi Traveling

Hari terakhir kami diawali dengan ‘turun bukit’. Berhubung cuaca cerah, jalan ngga begitu curam. Barang bawaan kami bisa dinaikkan di mobil pick up yang disewa panitia. Lumayanlah ngeringanin beban di pundak yang sebenarnya engga seberapa berat dibanding beban hidup... #eh
beberapa bagian jalan berbatu tajam

Jalan kaki turun bukit Cuma butuh waktu 1 jam 15 menit, jauh lebih cepet dibanding berangkatnya. Tapi tetap melewati jalan yang sama, naik turun. Tampak 1-2 motor dan kendaraan pick up naik. Serem ngebayangin berkendara di area terjal berbatu seperti ini. Kalo ngga lihai bisa-bisa wassalam dah. Walaupun begitu, saya juga liat di Kampung Cibuyutan ada anak usia SD yang jago balap, alias mahir naik motor bebek di area terjal.
Saat jalan kaki ngelewatin area tambang material

Sampai di meeting point kami sarapan dan naik kendaraan truk tentara menuju obyek traveling, yaitu Curug yang lokasinya di ujung Kecamatan Cariu. Sekitar 45-60 menitan lah dari Desa Sukarasa. Untuk menuju Curug Lalay, kami trekking 2 jam start dari tempat parkirnya kendaraan.
trekking Curug Lalai

Saya tiba di kos pukul 21.30 malam dan seketika langsung teringat kalo besoknya udah hari Senin dengan jam masuk kantor jam 7 pagi hahaha....

Buat pembaca yang pengen ikutan TnT, simak agendanya di instagram 1000 Guru maupun webnya. Ada regional daerahnya juga kok ^_^
*Dokumentasi diambil dari berbagai sumber:
Kamera Andina, Hasil jepretan Ka Angga, Ka Alim, kaka2 peserta TnT, IG Sibugo, dan dokumentasi pribadi.  

10 komentar:

  1. wah seru banget makan siang rame2 gitu dialasi daun, jadi ada kebersamaan ya

    BalasHapus
  2. MasyaAllah... masih ada ya desa yang masih kekurangan seperti ini. Semoga pa Mista tetap semangat dan akan tumbuh pa mista pa mista yang lain

    BalasHapus
  3. wah seru banget ya acaranya, berbagi sambil bergembira

    BalasHapus
  4. Seneng banget ya mbak, bisa melihat senyum siswa-siswi tersebut...duh pemandangannya

    BalasHapus
  5. jadi kangen cibuyutan.... masyaAllah
    semoga semakin banyak dikenal masyarakat bisa membawa kebaikan di kampung itu

    BalasHapus

hay. feel free to say anything, except SPAM :-D . i don't want to miss any comment and i will approve your comment here.

If anyone feel that I have"something wrong" in this article, please let me know immediately and i will repair it.