Selasa, 14 Februari 2012

[ ENDE #2 ] Tentang Desa Penempatanku

Keesokan harinya, kami berkumpul di kantor bupati untuk pembagian sekolah penempatan masing-masing. Rencananya, pertemuan ini akan dihadiri Pak Bupati, tetapi tidak jadi karena beliau sedang berhalangan hadir. Aku sempat was-was karena namaku belum tercantum di daftar pembagian sekolah penempatan. Akhirnya, Pak Abu meminta kepada dinas agar aku ditempatkan tidak di desa yang pelosok. Aku sih sudah berdoa dan menguatkan mental seandainya dapat tempat yang belum ada listriknya, susah sinyal dan terpencil banget.
Pak Abu dan perwakilan dinas mengatakan bahwa aku ditempatkan di sebuah SMA di kecamatan Nangapanda. Mereka bilang, daerah itu masih semi kota. Dalam hati aku sedikit lega. Siang harinya, Pak Kepala Sekolah menjemputku dan kami berangkat menuju lokasi penempatanku. Sepanjang jalan, aku takjub memandangi alam bumi Flores ini. Teksturnya berkelok-kelok dan berbukit-bukit. Di samping jalan ada tebing, bukit dan hutan. Di sampingnya lagi ada jurang dan pesisir pantai sepanjang perjalanan. Sungguh mengagumkan. Jalan raya trans Flores tidaklah lebar dan tidak banyak cabangnya. Tidak ada juga lampu lalu lintas.
Perjalanan menuju kecamatan Nangapanda jaraknya 30-35 kilometer dari kota Ende. Perjalanan memakan waktu 1 jam kalau menggunakan motor dan 1,5 jam dengan bemo=oto=angkot. Angkotnya full musik. Bagi yang tidak terbiasa melakukan perjalanan yang kondisinya berliku, harus siap-siap tahan pusing dan mual. Hehehe....
Siang itu, tibalah kami di lokasi penempatan (Desa Ondorea, kecamatan Nangapanda). Desa ini menghadirkan banyak surprise bagiku. Mayoritas rumah penduduk terbuat dari dinding bambu, ada yang bambu serut dan ada pula yang bambu anyaman. Hanya di pusat kecamatan saja yang bisa dilewati air PAM. Untuk desa Ondorea, belum ada aliran PAM sehingga semua penduduknya menggunakan sumur timba pribadi atau numpang di sumur tetangga. Di spot-spot tertentu, sinyal sulit dijangkau. Namun, di pusat kecamatan sinyal lancar. Ada listrik, tetapi dimaklumi saja karena sering padam. Hehehe...
Desa penempatanku berada di pesisir pantai. Bahkan di sekolah penempatanku berbatasan langsung dengan pantai yang terletak di belakang pagar sekolah. Debur ombak selalu terdengar menghiasi hari-hariku di sekolah. Angka malaria di kecamatan ini sangat tinggi karena letaknya yang di pesisir dan ada aliran sungai. Orang-orang mengatakan bahwa aku beruntung dapat penempatan dengan transportasi lancar. Bemo ada dari pagi sampai malam, dari kota Ende menuju kecamatan Nangapanda. Tarifnya 7000 rupiah per orang. Naik ojek juga bisa, tarifnya 20-25 ribu per orang. Untuk transportasi tempat dalam kecamatan Nangapanda, bisa naik ojek dengan tarif dua ribu rupiah. Murah, bukan?
Mayoritas penduduk bekerja serabutan : ada yang jadi pedagang kecil-kecilan, jualan, tukang ojek, tukang bangunan, kuli, nelayan, berkebun, dan lain-lain. Kelompok masyarakat ini hidup damai dalam keterbatasan kondisi mereka. Sebagian kecil masyarakat bekerja menjadi PNS, guru, bisnis, pegawai, bidan, perawat. Kelompok masyarakat ini biasanya memiliki sandang-pangan-papan yang lebih baik.
Pasar di kecamatan ini hanya ada seminggu sekali, yaitu pada hari senin. Pada hari lain, masyarakat desa bisa membeli kebutuhan dapur di toko kecil, warung dan kios sayur yang ada di pusat kecamatan. Ikan favorit yang banyak dibeli adalah ikan tembang (ikan yang mirip pindang, tapi lebih kecil), ikan teri dan ikan-ikan kecil karena harganya yang terjangkau. Untuk ikan-ikan besar harganya lebih mahal. Kalau dulu di Cilacap aku terbiasa menemani ibuku belanja ke pasar untuk beli ikan-ikan besar (mujair, mas, gurameh, nila, kakap, layur dan sejenisnya), kini aku harus membiasakan diri puas dengan lauk seekor-dua ekor ikan kecil saja. Hehehe...
Ada beberapa cerita miring yang kudengar dari orang-orang. Konon katanya daerah ini ilmu dukun dan mistisnya kuat, banyak penampakan swanggi (makhluk jadi-jadian). Kalau orang iri hati sukanya main dukun untuk membunuh orang lain. Selentingan itu cukup untuk membuat bulu kudukku merinding. Namun, kembali kumantapkan hatiku. Tujuanku di sini kan baik, untuk mengabdi cari pengalaman. Tuhan akan selalu menjagaku. Biarlah cerita-cerita negatif itu menjadi angin lalu saja.
Selain cerita yang bernada negatif, di sisi lain kecamatan Nangapanda memiliki keindahan alam yang menarik. Lihatlah senja di pantai desaku. Indah, bukan? Senja, selalu memberikan nuansa yang berbeda. Meski telah berkali-kali kulalui....
Namun, ada juga desa-desa di kecamatan Nangapanda yang jauh dari pantai. Yaitu desa-desa yang letaknya terpencil dan mendaki.
(bersambung)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

hay. feel free to say anything, except SPAM :-D . i don't want to miss any comment and i will approve your comment here.

If anyone feel that I have"something wrong" in this article, please let me know immediately and i will repair it.