Rabu, 15 Februari 2012

[ ENDE #3 ] Tentang Sekolah Penugasanku

Adalah sebuah SMA di kecamatan ini, menjadi tempatku bertugas selama satu tahun. Sekolah ini memiliki 250 siswa, terdiri dari kelas X sebanyak 4 kelas, kelas XI sebanyak 4 kelas dan kelas XII sebanyak 5 kelas. Ada pantai persis di belakang halaman sekolah yang dipagari tembok. Apakah sekolah ini mirip dengan sekolah yang ada di film Laskar Pelangi? Oh, tentu saja berbeda jauh. Sekolah ini memiliki halaman yang luas, banyak kelas dan bangunan berdinding tembok. Terdapat sebuah laboratorium komputer dengan jumlah komputer 4 unit. Nah, lumayan bukan untuk ukuran sekolah pedesaan? :)
Sebagai guru kontrak pusat, aku tidak mengalami kesulitan dalam membaur dengan guru-guru yang asli flores dan mengajar di sini. Mereka menyambutku dengan baik. Tidak butuh waktu yang lama bagiku untuk menyesuaikan diri dengan kondisi dan kebiasaan sekolah yang berbeda 180 derajat dengan kondisi lingkunganku dulu. Ibarat gambar di kertas, hidupku makin banyak saja warnanya dan semakin terlihat indah.

Satu hal yang sangat membuat saya terkejut adalah budaya menghukum murid dengan kekerasan. Katanya sih, kalau nggak dengan cara kekerasan, siswa nggak akan menurut. Kapan-kapan saya akan membahas mengenai kekekrasan dalam mendidik dan dampaknya di postingan lain. Intinya, kekerasan ini sudah bagian dari budaya di sini. Dari kecil, siswa sudah terbiasa dididik dengan kekerasan dalam keluarganya dan kebiasaan itu berlanjut hingga mereka remaja. 
Namun, ada sisi baik yang dimiliki oleh siswa di sini adalah lebih ‘tahan banting’ dalam bekerja. Inilah yang membuat saya kagum. Mungkin karena sebagai orang flores mereka terbiasa melakukan pekerjaan yang menguras tenaga fisik. Di sini, siswa terbiasa kerja bakti dalam lingkungan sekolah. Misalnya angkat batu untuk membangun kelas baru, angkat pasir, sampai menanam kacang-kacangan di kebun sekolah. Bayangkan, sumber mata air masih sulit di sekolah ini. Siswa harus menimba dari sumur yang jaraknya jauh dan mengangkatnya menggunakan ember.
Sekolah penugasanku ini termasuk disiplin, lho. Bapak Kepsek adalah pemimpin yang disiplin, berpikiran maju, asik untuk diajak bertukar pikiran dan memiliki dedikasi tinggi dalam memajukan sekolah. Perjuangan beliau tidak sia-sia. Kualitas sekolah ini meningkat dan baik di mata publik.
Siswa kelas XII diasramakan. Jangan bayangkan asrama itu seperti asrama-asrama sekolah yang pernah kita lihat. Asrama di sekolahku ini sangat sederhana. Di sinilah siswa kelas XII tinggal dan pada malam harinya ada kegiatan belajar malam di kelas pada pukul 18.30-22.00 WITA, kecuali malam minggu. Mereka masak sendiri dan nyuci sendiri dong. Terbiasa hidup dalam kondisi serba terbatas membuat mereka lebih mandiri dan ‘tahan banting’. Kalaupun fakta menunjukkan prestasi akademik siswa yang rendah, kurasa itu karena motivasi belajar mereka yang rendah. Mereka tidak bodoh. Mereka hanya belum sadar untuk bersemangat menuntut ilmu.

Banyak siswa kelas XII yang tahun kelahirannya 1990. Artinya, mereka sudah berumur 21-22 tahun! Bahkan ada pula yang 1989 dan 1986. Namun, tidak sedikit yang masih berusia 18 tahun. Usut punya usut, banyak siswa yang terlambat sekolah atau sempat berhenti sekolah untuk mengumpulkan biaya. Rata-rata mereka masuk SD pada umur 7 tahun.
Kini, sudah 6 bulan aku bertugas di sekolah ini. Aku mendapat jam BK sebanyak 2 jam per minggu untuk masing-masing kelas dan aku mengampu kelas X, XI dan XII. Aku cukup kesulitan karena aku tidak terbiasa dengan jam BK sebanyak 2 jam itu, sebab di Jawa BK itu hanya 1 jam. Selama 6 bulan bertugas, aku merasa belum memberikan jasa pada sekolah ini. Yang ada malah sebaliknya. Sekolah ini telah memberikan banyak hal padaku. Aku banyak belajar selama 6 bulan, mulai dari belajar bersabar, belajar bersyukur dan mandiri. Belajar menanam kacang ijo dan panen kacang ijo (untuk pertama kalinya seumur hidup).Oya, guru-guru wanita juga sering masak bersama kalau sekolahan ada acara tambahan seperti rapat, kegiatan-kegiatan khusus dan kegiatan ekstra bagi guru (misalnya pembuatan perangkat pembelajaran dari siang hingga sore hari). Usai masak, perlu menimba air dari sumur untuk mencuci piring. Kami guru wanita masak di depan mess guru. Sekolah ini memang menyediakan beberapa kamar sederhana di mess guru untuk beberapa guru yang membutuhkan.




Ya. Dalam kondisi yang serba terbatas, sekolah ini terus berbenah dan pihak sekolah menjalankan program-program yang bertujuan positif : membangun dan meningkatkan kualitas sekolah.
(bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

hay. feel free to say anything, except SPAM :-D . i don't want to miss any comment and i will approve your comment here.

If anyone feel that I have"something wrong" in this article, please let me know immediately and i will repair it.