Eksistensi Kampung Adat Wologai Tengah

11 Juli 2012 | Rubrik: Travel Story - Dibaca: 607 kali

Penulis : ina

 selamat datang
Pada tulisan ini, saya akan menceritakan tentang perjalanan saya mengunjungi salah satu Kampung Adat yang ada di Kabupaten Ende, Flores, NTT.  Kampung Adat (Traditional House) ini terletak di desa Wologai Tengah, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende. Pemandangan rumah tradisional dan kehidupan masyarakatnya yang masih alami, menjadi sebuah panorama yang sayang untuk dilewatkan. Ya, Sobat Nida harus kemari! Hehehe...
Perjalanan menuju Kampung adat memakan waktu 2 jam. Jauhnya sekitar 45 kilometer dari Kota Ende. Lebih mudah jika ditempuh dengan kendaraan pribadi (sepeda motor). Namun, lokasi kampung adat bisa juga ditempuh menggunakan kendaraan umum. Kunjungan saya kemari sebenarnya insidental, tidak direncana. Yaitu pada saat liburan April 2012.
Rute perjalanan dimulai dari Kota Ende, berangkat lewat jalan trans Ende-Maumere. Memasuki dusun Ekoleta (kecamatan Detusoko), terlihat hamparan sawah yang memikat mata. Perjalanan masih berlanjut sekitar 20 menit dari dusun Ekoleta.
Akhirnya saya tiba di desa Wologai Tengah. Tidak dikenakan tarif untuk memasuki kampung adat ini, karena kampung adat ini berisi kumpulan rumah-rumah tradisional yang dihuni oleh masyarakat pribumi. Usai memarkirkan motor, saya minta ijin kepada seorang penduduk untuk bisa berjalan-jalan mengelilingi kampung adat dan mengambil foto. Mereka sangat ramah dan mengijinkan. Bahkan menemani saya berjalan keliling.
penduduk wologai
Serasa terbang ke jaman lampau, itulah yang saya rasakan saat menikmati indahnya arsitektur kampung adat ini. Hmmm...saya jadi berandai-andai. Bagaimana rasanya menginap di rumah ini? Pasti mengasyikkan. Kedatangan saya disambut oleh pohon beringin tua yang konon katanya berusia ratusan tahun. Saya melangkahkan kaki dengan rasa takjub yang tidak habis-habis. Barisan rumah tradisional yang merupakan warisan leluhur sungguh memukau mata saya.
rumah adat wologai
Kampung adat tidak luas. Kampung ini memiliki sejumlah bangunan rumah adat yang tradisional,  tertata rapi membentuk lingkaran. Sa’o Ria, demikian mereka menyebut rumah adat ini. Rupanya, kedatangan saya di siang hari kurang tepat. Penduduknya sedang beristirahat di dalam rumah sehingga saya tidak bisa memotret keseharian mereka dan isi di dalam rumah itu.  
Travelling akan semakin terasa mengasyikkan jika kita juga berinteraksi (ngobrol) dengan penduduk sekitar. Pasti ada cerita unik yang akan kita temui. Apalagi orang-orang di sini ramah. Seorang bapak bercerita bahwa ada sebuah bangunan yang digunakan untuk mengubur tulang-belulang leluhur yang mereka hormati. Mereka menjunjung tinggi adat dan warisan leluhur.
rmh adat
Ya. Kampung Adat seakan memancarkan aura magis yang unik. Eksistensi kampung adat ini sangat mempesona. Kabarnya, sekitar tanggal 25 Agustus-15 September masyarakat adat desa Wologai melaksanakan sebuah ritual panen padi yang dianggap sakral. Kampung yang sepi ini akan meriah sekali karena masyarakatnya akan berpesta. Mungkin suatu saat, saya akan kembali mengunjungi Kampung Adat ini untuk lebih memaknai dan melihat tradisi masyarakatnya. Subhanallah... betapa kayanya Indonesia.
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (Al Hujurat : 13)
.
Tulisan saya ini dimuat di Majalah Annida Online :
http://annida-online.com/artikel-5742-eksistensi-kampung-adat-wologai-tengah.html

Tidak ada komentar

hay. feel free to say anything, except SPAM :-D . i don't want to miss any comment and i will approve your comment here.

If anyone feel that I have"something wrong" in this article, please let me know immediately and i will repair it.