Selasa, 13 Agustus 2013

Indahnya Toleransi Keberagaman di Sekolahku


Tahun 2012, saya berdomisili di Kabupaten Ende, Flores, NTT selama setahun. Sejarah kehidupan saya yang beberapa kali berpindah tempat membuat saya menemukan khazanah keberagaman dalam Indonesia. Keberagaman dan perbedaan yang ada di segala penjuru tanah air ini tentunya melahirkan kelompok mayoritas dan minoritas yang tak dapat dipungkiri lagi.  Perbedaan yang ada bisa ditinjau dari segi agama, budaya, suku, ras, dan status sosial. 

Dalam lingkup sehari-hari, kelompok mayoritas dan minoritas dapat dilihat dari hubungan sosial dan pergaulan. Misalnya, seorang anak etnis A dikucilkan oleh teman-temannya yang mayoritas etnis B. Perkelahian antar umat beragama sebagai sebuah isu yang sensitif bisa juga terjadi jika tidak adanya toleransi. Ada siswa di suatu sekolah yang dikucilkan hanya karena warna kulit dan fisiknya berbeda dengan kebanyakan teman-temannya. Seseorang yang sejak kecil terbiasa hidup di lingkungan yang heterogen biasanya akan lebih mampu menerima perbedaan. Berbeda jika seseorang tidak pernah diajari tentang bagaimana menyikapi keberagaman, ia hanya terkurung dalam pemikirannya tanpa mau membuka hati terhadap sebuah perbedaan. Maka, ia akan cenderung sulit menerima orang lain yang memiliki perbedaan latar belakang dengan dirinya.


Ketika hidup di Lombok, saya dan kedua orang tua adalah kaum minoritas dari segi suku. Dari segi agama, kami tetap masuk dalam golongan mayoritas. Selama tinggal di Kabupaten Ende ini, tentulah saya adalah golongan orang minoritas  dari segi suku dan agama. Jika biasanya yang saya dengar adalah kaum mayoritas yang sering bersikap sewenang-wenang terhadap kaum minoritas, tidak demikian dengan yang saya alami di sekolah penempatan saya. Sebuah Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kabupaten Ende.

Saya memang masih minim pengetahuan agama. Namun, yang saya tahu, setiap agama di Indonesia mengajarkan cinta kasih terhadap sesama. Itulah yang saya temukan di SMA penempatan saya. Sekolah ini mengadakan evaluasi rutin setiap hari Sabtu seusai kegiatan belajar mengajar (KBM). Terkadang rapat juga dilaksanakan pada momen-momen tertentu.Setiap rapat selalu dibuka dengan doa dan ditutup dengan doa.  Setiap pagi sebelum KBM dan siang usai KBM, selalu ada doa pagi dan doa siang. Begitu juga saat upacara bendera setiap senin pagi, selalu ada sesi pembacaan doa. Doa yang dibawakan ini bergantian antara doa agama Islam dan doa agama Katholik. Bapak Kepala Sekolah menunjuk secara bergantian antara kedua agama tersebut.

 Bahkan, saat bulan ramadhan, tidak ada konsumsi snack dan minum saat rapat demi menghormati umat muslim yang berpuasa. Padahal jumlah muslim di sekolah tidak banyak, hanya sekitar 25-30 % saja. Kelihatannya cerita nyata ini memang sederhana. Namun, kesederhanaan itu sungguh membuat saya semakin yakin bahwa perbedaan agama tidak seharusnya dijadikan penghalang terciptanya kerukunan umat beragama. Kami yang beragama muslim tidak perlu takut dengan menu masakan yang dimasak bersama oleh guru-guru wanita pada saat acara-acara tertentu. Sekolah memutuskan tidak menyembelih daging babi atau anjing. Bahkan, untuk urusan pemotongan ayam saja yang memotong adalah karyawan yang beragama Islam, agar bisa dibacakan doa saat penyembelihan.

 Toleransi beragama juga dapat terlihat dari program yang ada di sekolah. Sekolah ini memiliki acara Natal Bersama dan Halal Bi Halal bersama yang diikuti oleh segenap warga sekolah. Pada saat acara Natal Bersama, sekolah mengundang tokoh agama Katholik untuk menjadi penceramah. Begitu juga sebaliknya, saat acara Halal Bi Halal bersama, sekolah mengundang tokoh agama Islam. Pada saat bulan puasa, ada acara pesantren kilat sehari dari pagi sampai sore yang dilanjutkan dengan acara buka puasa bersama. Tidak tanggung-tanggung, Bapak Kepala Sekolah membentuk panitia yang terdiri dari guru-guru non muslim dalam kepanitiaan pesantren kilat. Acara-acara tersebut berlangsung dengan lancar. 
 
Acara Halal BiHalal Bersama di sekolah, diikuti siswa dan guru muslim dan dibantu oleh non muslim

Acara Natal Bersama di sekolahku, diikuti oleh siswa dan guru katholik. Yang muslim hadir membantu

Pesantren Kilat di sekolah

Teringat perkataan Bapak Camat Nangapanda dalam sambutannya di acara Halal Bi Halal di SMA penempatan saya pada 3 September 2012, “Acara ini sungguh menarik dan sebagai bukti bahwa SMA ini sangat menghargai adanya keberagamaan agama. ”  Dari kata sambutan tersebut, saya bisa menyimpulkan bahwa Bapak Camat pun setuju bahwa adanya toleransi beragama di sekolah ini adalah nyata. 

20 komentar:

  1. memang seharusnya sudah seperti itu, kita saling bertoleransi walaupun banyak perbedaan diantara kita, semoga ini bisa jadi contoh ya kak. keren banget deh

    BalasHapus
  2. Taqabbalallahu minna waminkum
    Selamat Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal 1434 H.
    Mohon Maaf lahir dan bathin

    BalasHapus
  3. Sebuah contoh yang perlu diteladani oleh sekolah2 lainnya.
    Ternyata toleransi memunculkan kerukunan dan kenyamanan dalam kehidupan sehari-hari.
    Sebuah pengalaman yang sangat indah dan menyentuh.

    BalasHapus
  4. Harusnya seperti itu, tp kata sama implementasi terkadang sangatlah jauh berbeda.

    BalasHapus
    Balasan
    1. harapan dan kenyataan memang masih jauh berbeda ya kak.

      Hapus
  5. Seharusnya begitu, tapi kadang manusia suka bikin rumit hal sepele. Eh jgn2 saya juga tergolong yg suka rumit itu

    BalasHapus
  6. memang sudah seharusnya dan selayaknya sebagai manusia....
    sippp bisa terus ditingatkan dan dipertahankan...
    :)

    BalasHapus
  7. Ini sebenarnya merupakan gambaran ideal dari hidup berdampingan secara damai. Gak enak jika hanya karena berbeda lalu jadi bermusuhan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah iya. Kerukunan antar agama itu indah deh mbak.

      Hapus
  8. sekolah negeri emang udah wajar ya bersikap demikian, tidak membedakan golongan. kalo di lamongan ada satu desa yang punya 4 agama sekaligus, tempat ibadah juga berdekatan. tp toleransi beragamanya patut dicontoh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah bagus sekali kerukunan di desa lamongan itu mbak. tulis aja di blog ^___^

      aku miris pas tau di suatu daerah bentrok agama terus :(

      Hapus
  9. perbedaan akan selalu ada harus saling punya rasa toleransi ya

    BalasHapus
  10. Indonesia gitu loh. Pasti saling menghargai.

    BalasHapus

hay. feel free to say anything, except SPAM :-D . i don't want to miss any comment and i will approve your comment here.

If anyone feel that I have"something wrong" in this article, please let me know immediately and i will repair it.