Jumat, 07 Juni 2013

Mimoyoja's Giveaway 200 followers


Hallo sobat! Kali ini Ina ikutan Mimoyoja's Giveaway nich....Dapat infonya waktu blogwalking. Topik giveaway nya adalah menceritakan tentang Hal apa yang paling bermakna dalam hidup kamu dan mengapa demikian??
Tertarik untuk ikutan? Sobat bisa klik infonya di sini atau klik banner giveaway yang ada di bawah postingan ini. Okey! ^__^ Deadline hingga 15 Juni 2013. So, masih banyak waktu.

Kalau hal yang paling bermakna dalam hidupku adalah kasih sayang dari kedua orang tuaku. Mengapa demikian? Sebab kasih sayang dan cinta yang mereka berikan tulus tak bersyarat.

Aku berasal dari keluarga sederhana dan memiliki seorang adik kandung yang sangat kusayangi.

“Bapak Ibumu nggak bisa memberikan apa-apa kecuali ilmu, Nduk. Maka Bapak Ibu sudah berniat untuk menyekolahkan kamu. Kamu harus jadi sarjana. Dengan ilmu yang kamu dapatkan bisa kamu terapkan dalam dunia kerja. ” ~ orang tuaku.


Nasehat lama itu masih ku ingat hingga sekarang. Bapak dan Ibu adalah tipikal orang tua yang sangat mempedulikan pendidikan bagi kedua anaknya. Dalam kondisi perekonomian sederhana, mereka bekerja keras mencari rezeki halal untuk menyekolahkan anaknya hingga meraih gelar sarjana. Pendidikan itu penting, itulah motto mereka. Orang tua mulai mengenalkanku pada buku bergambar dan alat tulis saat aku masih berusia 3 tahun. Sejak itu, aku semangat masuk ke taman kanak-kanak (TK) dengan alasan “ingin bermain sambil belajar”. Pernah aku ikut Ibu berbelanja di pasar Praya, Lombok, Ibu membelikan saya celengan lucu yang ada gemboknya. Ibu mengajariku untuk menabung.

Ibu sering membawakan majalah Bobo sepulang kantor dan berkata: “Coba ini kamu baca ya. Di situ banyak ilmu yang kamu dapat. Lihat, ada pengetahuan tentang sains, ada latihan mengerjakan soal ulangan, ada dongeng-dongengnya...” dengan sabar Ibu membuka halaman demi halaman majalah kepadaku yang masih berusia 6 tahun. Tidak ketinggalan, Bapak juga turut membelikan majalah Aku Anak Saleh karena majalah itu banyak mengandung muatan islaminya.

Dulu waktu TK, aku punya banyak sekali boneka. Tiap pulang ke Jogja, orang tua selalu mengajakku ke toko. Aku bebas memilih boneka mana yang kuinginkan. 
Menginjak usia SD, Bapak dan Ibu mengurangi jatah mainan. “Kalau uangnya untuk beli buku bahasa inggris, majalah atau buku pengetahuan, lebih bermanfaat lho, Nduk. Karena dapat ilmu.” Itu alasan yang dikemukakan orang tua ketika aku merengek minta mainan.  Akhirnya mereka berubah haluan. Kalau pulang ke Jogja, mereka tidak mengajak aku ke toko mainan, melainkan ke Gramedia.

Semasa SMA aku biasa naik angkot ke sekolah dan semasa kuliah S1 di Jogja aku terbiasa jalan kaki ke kampus. Tanpa membawa motor itu bukan penghalang bagiku untuk menuntut ilmu.
Ibuku cuma tamatan STM dan kini bekerja di sebuah rumah sakit. Sebagai tenaga medis? Bukan. Jabatannya tinggi? Tidak. Namun, bagiku beliau nggak kalah keren dibanding direktris perusahaan ternama. Aku berani bilang bahwa beliau adalah bunda yang baik. Meskipun sibuk bekerja, beliau tidak pernah lupa memberikan perhatian pada anak-anaknya.  Beliau yang membetulkan letak selimutku sebelum tidur. Mempunyai waktu untuk mendengarkan ceritaku. Membuatkan teh hangat saat aku sakit. Bahkan beliau selalu memasak di pagi hari, walaupun jam kantornya juga pagi (jam 07.30). Beliau yang tidak pernah melupakan urusan dapur. Beliau yang tidak pernah lupa menyelipkan nama anak-anaknya di setiap rangkaian doanya. Beliau yang dulu tidak pernah lupa menyanyikan lagu pengantar tidur. Beliau yang selalu mengucapkan ulangku tepat di waktu fajar. Siapa bilang beliau nggak sehebat wanita dengan jenjang karir sangat mapan?

Bercermin pada masa lalu, setitik keharuan menyelinap di benakku. 
 “Dengan mengabdikan profesimu untuk orang lain, kamu telah beramal, Nduk. Sebagai guru, kamu telah bekerja sekaligus menabung pahala. Kamu juga akan terus belajar sepanjang usiamu.” ~ quote by: bapak dan ibu.


Terima kasih, Bapak, Ibu. Semua yang kuraih sekarang tidak akan terjadi tanpa restu dan doamu. Saat ini, Bapak dan Ibu berdomisili di Cilacap, sedangkan aku di Surabaya menjalani Pendidikan Profesi Guru. Ah, sejauh apapun aku pergi, pelukan dan cinta kasih kalian adalah rumahku. Surga kecilku.

You are my guardian angel. You are my teacher. You are my inspiration. You are my spirit. YOU ARE MY LIFE. 


13 komentar:

  1. :') terharuuu ...
    semoga sukses!

    oiyaaa, mau kasih tahu aja. sayang bgt km gak jd ikutan kuis buku yg di blog-ku. padahal pemenangnya banyak, bukan cuma 1 :p Hihihi. Keburu pesimis sih

    BalasHapus
  2. wah, inspiratif mbaaak...keluarga mbak Ina daebak sekaliii...hehehe...
    sama, aku juga kuliah udah hampir 4 tahun nggak ada sepeda juga nggak apa apa. sudah bisa kuliah itu sudah alhamdulllah luar biasa.
    Semangat buat mbak Ina, kamu pasti BISA!!! sekarang sibuk apa emangnya mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. tenkiu dear ^^

      Lagi sibuk kuliah pendidikan profesi guru di surabaya..
      beasiswa setelah setahun ngajar di NTT.

      Hapus
  3. wah keren....
    terharu :')

    tetap semangat menuntut ilmu ya :))

    BalasHapus
  4. semoga selalu rukun ya keluarganya

    BalasHapus
  5. yah, bagaimanapun keluarga memang tetep diatas segala-galanya, ibarat kecap, kgak ada kecap yg no 2.. #apa hubunganx keluarga ma kecap ya..???

    baca tulisan ini jdi inget jaman kuliah dulu, saia ini termasuk mahasiswa yg gagal, saking gagalx untuk membacapun saia sulit bu guru.. #looh..

    BalasHapus
  6. membaca postingan mbak di atas bikin mataku berkaca-kaca... :")

    *love my family so much tooo

    BalasHapus
  7. Sukseesss! Ceritanya mengharukan,, dan km menaangg !! ^^
    Follow back blog aq yaa ^^

    http://visitkarlina.blogspot.com/

    BalasHapus

hay. feel free to say anything, except SPAM :-D . i don't want to miss any comment and i will approve your comment here.

If anyone feel that I have"something wrong" in this article, please let me know immediately and i will repair it.