Senin, 27 Agustus 2018

Pengalaman Mengajar di Daerah 3T

Berbicara tentang sosok guru, banyak kenangan indah yang masih melekat di benak saya.  Ingatan tentang Bapak-Ibu guru saat saya masih mengenyam pendidikan di bangku sekolah. Ketelatenan mereka dalam menerangkan materi, kesabaran mereka saat membimbing saya lomba bidang studi, hingga semangat mereka saat memotivasi murid-muridnya . Bagi saya, guru merupakan sebuah profesi panggilan hati.

Akhirnya saya bisa merasakan berada dalam posisi menjadi seorang guru. Semua berawal saat saya menamatkan bangku kuliah S1 tahun 2011 dan memutuskan mengikuti SM-3T angkatan I. Program ini diadakan oleh DIKTI KEMENDIKBUD yang bertujuan untuk membantu mengatasi kekurangan guru di daerah Terluar, Tertinggal dan Terdepan (3T) sekaligus menyiapkan calon guru profesional yang memiliki jiwa untuk mencerdaskan anak bangsa, mandiri, tangguh dan peduli terhadap sesama.
Selama satu tahun, peserta akan ditugaskan untuk berpartisipasi sebagai pendidik di daerah 3T.  Tugas peserta tidak hanya menjadi guru yang mengajar di sekolah, melainkan juga menjalankan tugas sosial kemasyarakatan. Setelah setahun, penugasan akan dilanjutkan oleh peserta angkatan berikutnya. Saya mendapatkan daerah penempatan di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur untuk masa penugasan selama setahun mulai dari bulan Desember 2011. 
Perjalanan dari Kota Ende menuju Nangapanda, lokasi penugasan saya
Saya di lokasi penempatan
  Untuk menuju lokasi penempatan, saya cukup menggunakan oto (bemo) dari kota Ende selama 1,5 jam saja. Bemo ini beroperasi lancar setiap hari dari pagi hingga maghrib. Kontur jalanan dari kota Ende menuju lokasi penempatan terbilang mudah ditempuh. Jalannya halus dan beraspal, tetapi berliku, serta dihiasi tebing, jurang dan pantai di sisinya.


Tantangan Mengajar dan Kondisi Sekolah Penempatan Saya di Daerah 3T
Indahnya mendapat sekolah yang posisi bagian depannya di pinggir jalan raya. Bagian belakang berbatasan dengan pantai. Di kelas bagian belakang, saya bisa menatap pantai dari jendela kelas.
Suasana pembukaan Masa Orientasi Siswa (MOS), Juli 2012


 Tidak ada kesulitan transportasi untuk menuju lokasi penempatan saya yang memang terhitung dekat dari kota Ende ini. Sedangkan banyak teman saya yang mendapat lokasi penempatan sulit dijangkau. Misalnya haru menempuh perjalanan berjam-jam menggunakan truk kayu dari kota Ende, jalanan yang rusak, belum ada listrik, sulit air, atau harus menyebrang lautan. Apakah dengan mendapatkan lokasi penempatan yang mudah ditempuh itu berarti miskin tantangan di dalamnya? Tidak. Sebab, tantangan setiap lokasi penempatan pasti berbeda.
Pak Andre, Kepala Sekolah di SMA tempat saya mengajar telah mampu memberi contoh sebagai panutan bagi guru-guru dan siswa. Sejak diangkat menjadi kepala sekolah mulai bulan Januari 2011, beliau banyak merancang program-program yang bermanfaat. Dedikasi beliau sangat tinggi dalam memajukan pendidikan. Beliau adalah orang yang disiplin dalam hal peraturan.
Banyak siswa yang memiliki nilai rendah di sekolah saya. Di tahun 2010, sekolah penempatan saya ini muridnya tidak lulus 100% Ujian Nasional. Namun, berkat usaha keras dari siswa, kepala sekolah, guru-guru dan stakeholder,  prestasi siswa beranjak mengalami peningkatan. Pada tahun 2012, jumlah siswa yang tidak lulus hanya 1 orang. Beberapa siswa juga juara olimpiade sehingga mewakili sekolah untuk lomba hingga tingkat provinsi NTT.
Saya mengampu pengembangan diri sebanyak 14 kelas ( yaitu kelas XA, XB, XC, XD, XI SOS 1, XI SOS 2, XI SOS 3, XI IPA, XI BAHASA, XII SOS 1, XII SOS 2, XII SOS 3, XII BAHASA dan XII IPA) dengan jam tatap muka 2 jam pelajaran per kelas per minggu. Tantangan pertama saya adalah bagaimana membuat pembelajaran yang interaktif, komunikatif dan menyenangkan. Tantangan lainnya adalah penyesuaian dari segi bahasa. Sebisa mungkin saya menggunakan tatanan bahasa yang mudah dipahami, walaupun logat medok Jawa masih menempel dalam suara saya.
“Tolong rapikan kau punya baju, Nak,” tegur saya pada seorang siswa laki-laki yang baju seragamnya dikeluarkan.
Filosofi ‘Ada Emas di Ujung Kayu’ masih berlaku di sekolah ini. Artinya, hukuman fisik baisa digunakan guru sebagai bentuk kasih sayang dalam mendidik muridnya. Saya tidak bisa menyalahkan, sebab itu sudah menjadi bagian dari budaya. Namun, saya berusaha menerapkan cara lain yang lebih mendidik saat siswa melanggar peraturan. Misalnya, pendekatan kepada siswa, memberikan peringatan yang tegas dan reward jika ia tidak melanggar lagi. 
Sebuah kebahagiaan tersendiri bagi saya karena bisa berjumpa dengan siswa di hari Senin hingga Sabtu.  Membimbing mereka meskipun fasilitas di sekolah ini masih sederhana. Demikian juga sarana prasarananya. Kelas yang belum ada LCD proyektor dan guru menggunakan kapur untuk menulis di papan tulis. Aliran air dari PAM juga belum sampai di sini, sehingga sekolah mengandalkan sebuah sumur timba untuk keperluan air. 
Untunglah aliran listrik sudah tersedia 24 jam. Saat bimbingan belajar malam menjelang Ujian Nasional, ada lampu yang berpijar menerangi mereka saat membaca  di kelas pada malam hari.  Di kecamatan lain di Ende, teman saya yang mendapat penempatan di Sekolah Dasar menuturkan bahwa ruang kelasnya hanya terbuat dari papan dan bambu. Saat membimbing siswa belajar mandiri di malam hari, teman saya menyalakan pelita (cahaya dari lilin atau petromak) karena ketersediaan listrik belum menjangkau dusun tersebut. Dalam kondisi yang sederhana inilah, kami berusaha untuk membawa murid-murid melintasi ruang imajinasi agar mereka memiliki impian yang tidak sederhana.  
Kegiatan kerja bakti di sekolah. Guru dan murid turun tangan.
Murid-murid antri mengambil air di sumur sekolah saat acara kerja bakti
Saya bersyukur modem yang saya miliki masih bisa tersambung dengan internet walaupun koneksinya hilang-muncul.  Laptop dan modem ini terkadang saya jadikan sebagai media pembelajaran untuk mengenalkan siswa dengan berita IPTEK terbaru.  Untunglah sekolah juga berlangganan sebuah koran nasional. Koran ini sangat bermanfaat untuk membantu terlaksananya proses pembelajaran.

Impian itu Ada
Siswa semangat berdiskusi di kelas
Siswa kelas XII, semangat belajar di kelas pada malam hari, untuk menghadapi UN 2012

“Nanti kalau saya tamat, saya mau kuliah di Jawa Bu. Lalu saya kembali ke sini, untuk bangun saya punya kampung, “ tutur Ril, murid kelas XA dengan semangat.
Lain lagi dengan Peter. Siswa kelas XI Bahasa ini memberikan jawaban yang sedikit berbeda saat ditanya apa cita-citanya. Jika mayoritas temannya menjawab ingin menjadi guru, perawat, pemain bola dan pembawa acara, Peter mengatakan bahwa ia ingin menjadi nelayan hebat seperti ayahnya.
“Saya bangga dengan Bapak. Dia sering pulang bawa ikan sekarung, “ ungkap Peter. Ya. Dengan hasil ikan tangkapan itulah, ayah Peter mampu menyekolahkan anaknya. Bahkan kakak Peter kini berprofesi sebagai perawat dan guru. 
Ah, lihatlah! Meskipun mereka bersekolah di daerah yang masih tertinggal, mereka tidak ingin tertinggal dalam hal mengejar impian. Di sinilah guru berperan untuk mengajari siswa agar mengukir impiannya, bukan malah memandang sebelah mata atas impian baik yang dimiliki siswa.
Guru harus senantiasa mendorong siswa untuk giat menuntut ilmu di sekolah, sebagai gerbang awal peraih cita. Integritas dan etos kerja yang baik tidak harus diraih dari pekerjaan yang dianggap memiliki prestis tinggi di mata orang lain, bukan? Apapun pekerjaan mereka kelak: perawat, guru, bidan, pilot, pedagang, petani bahkan juragan angkutan umum-pun, keberhasilan tetap bisa diraih asalkan ada kesungguhan. Ayah Peter yang menjadi nelayan juga bisa melakukan hal-hal luar biasa.

Pentingnya Kolaborasi Guru dengan Pihak Sekolah dan Stakeholder

Tempaan alam dan lingkungan membentuk karakter siswa menjadi tangguh, pekerja dan tidak manja. Dinding belakang sekolah penempatan saya tersebut berbatasan langsung dengan pantai. Karena letaknya yang berada di pesisir pantai, banyak orang tua murid yang memiliki pekerjaan sebagai nelayan. Sebagian lainnya bekerja sebagai petani ladang, berdagang, dan ada juga yang menjadi PNS walaupun jumlahnya sangat minim. Namun, tidak semua orang tua murid berpikir bahwa pendidikan itu penting.
Ada siswa yang sering membolos karena disuruh orang tuanya untuk berjualan ikan. Ada juga yang dilarang sekolah lagi karena orang tua menganggap sekolah itu kegiatan yang sia-sia dan tidak menghasilkan uang. Padahal, dengan adanya kucuran bantuan dana BOS dan bantuan dana lainnya, beban orang tua untuk menyekolahkan anak di sekolah negeri jauh lebih berkurang. 
Step adalah salah satu murid yang sering membolos. Akibat sering tidak hadir tanpa alas an, ia terancam tidak naik kelas. Setelah berunding dengan wali kelas Step, saya memutuskan untuk mengadakan home visit ke rumah Step agar bisa menggali informasi lebih lanjut. Di sana, saya ‘mengobrol’ santai dengan orang tua dari Step.
“Biarlah Bu dia bolos. Dia bolos untuk cari uang. Kalau cuma duduk-duduk saja dengar ceramah guru dari pagi sampai siang tidak dapat apa-apa,” pinta Ibu Step sembari memohon keringanan agar anaknya tetap naik kelas walaupun tercatat sering membolos.
“Saya mengerti, Bu. Tapi, tugas utamanya tetap sekolah. Dia tetap bisa membantu orang tuanya di luar jam sekolah. Step tetap bisa naik kelas asalkan dia berjanji tidak akan membolos lagi saat kelas XII. “
Syukurlah, orang tua Step mau mengerti. Hari-hari selanjutnya, ia sudah kembali masuk sekolah. Saya mengambil pelajaran bahwa sebagai agen perubahan, guru harus berkolaborasi dengan para stakeholder guna memecahkan permasalahan tersebut. Untuk menciptakan sebuah perubahan kondisi pendidikan, guru harus mampu membangun relasi yang baik dengan murid, kepala sekolah, rekan sesama profesi, komite, bahkan orang tua murid. Dengan adanya dukungan dari stakeholder, proses pembelajaran akan berlangsung lebih lancar. 
Saya berfoto bersama murid-murid kelas XA. Mereka generasi penerus bangsa.
Selain itu, sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat bagi guru untuk menanamkan pengetahuan akademik kepada siswanya. Melainkan juga tempat untuk membekali mereka dengan budi pekerti dan akhlak mulia sebagai penuntun siswa dalam melangkah saat meraih masa depannya.  Di sinilah siswa dibekali pendidikan karakter dalam mengembangkan dirinya.  Pendidikan karakter yang bersumber dari nilai-nilai dalam Pembukaan UUD 45 dan kelima sila Pancasila. Dalam upaya mencerdaskan anak bangsa, guru juga harus memberikan contoh yang baik dengan penerapan kode etik guru dalam kehidupan sehari-hari.

Sulitkah mengajar di daerah 3T?
Murid saya menjadi pengibar bendera. Pengibaran Bendera Merah Putih, saat upacara 17 Agustus di lapangan kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende 

Tentu diperlukan proses dan waktu untuk beradaptasi hidup di lingkungan baru pada awalnya. Dengan latar budaya, kondisi lingkungan dan karakteristik masyarakat yang  sangat berbeda. Beragam cerita, suka dan duka adalah warna yang menghiasi kanvas kehidupan saya sehari-hari. Mulai dari merasakan hidup sebagai kaum minoritas di lokasi yang menjunjung tinggi toleransi beragama, merasakan indahnya menjalani ramadhan di perantauan, hingga lebaran di tanah Ende.  
Masyarakat Ende yang mayoritas beragama Katholik begitu menghormati muslim. Untuk mengisi waktu di sore hari, saya dan Mbak Feri (rekan sesama program SM-3T) dengan sukarela membantu pak ustad di desa kami untuk mengajar anak-anak beragama Islam usia SD yang mengikuti Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ). Kegiatan diadakan di rumah Pak Ustad. Menyenangkan rasanya bisa memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi anak-anak SD ini. 
Saya dan Mbak Feri, saat mengajar di TPQ
Di Ende, saya belajar untuk menerapkan apa yang sudah saya dapat selama empat tahun kuliah. Bulan-bulan berikutnya terasa lebih mudah karena saya dan teman-teman memulainya dari hati, bukan paksaan. Hanya diperlukan kemauan untuk mendedikasikan diri dan kesiapan untuk membantu pembangunan pendidikan di negeri ini. Saya bangga karena bisa mengambil bagian untuk mencerdaskan anak bangsa. Tidak masalah dengan adanya kebijakan pergantian kurikulum, karena bagi saya berhasil tidaknya semua kembali pada guru. 

Dari rekan-rekan guru senior, saya banyak belajar saat menggali pengalaman mereka. Dari guru-guru yang pernah membimbing saya dari TK hingga bangku SMA, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa menjadi guru itu juga tentang berbagi inspirasi. Mereka, Bapak-Ibu guru, senantiasa mendampingi saya merajut asa selama di bangku sekolah.  Mereka juga menjadi jembatan penuntun yang mengantarkan saya menuju kehidupan yang lebih baik. Dalam memaknai kemerdekaan yang telah diraih Bangsa Indonesia, guru mengambil andil untuk mencerdaskan anak bangsa. Hal ini sesuai dengan yang tertera dalam Pembukaan UUD 45 alinea keempat.
Program SM-3T masih terus berlanjut sebagai upaya pembangunan pendidikan di daerah tertinggal. Berikut ini adalah sebuah video yang menggambarkan kisah Sri Wahyuni, S. Pd (peserta SM-3T dari LPTK UNNES). Beliau mendapatkan penempatan mengajar di Pisa, sebuah desa di Kecamatan Lepembusu Kelisoke, Kabupaten Ende.  Video ini diunggah di Youtube pada 1 Februari 2014 oleh Sdr.Afifa Megantara.
 
Sampai kapanpun, Indonesia tetap membutuhkan sosok guru. Suatu kehormatan bagi saya saat mendapatkan kesempatan untuk membangun generasi muda Indonesia bersama rekan guru lainnya.  Untuk membangun negeri, tentunya kita tidak bisa hanya duduk berpangku tangan, berkhayal, atau mengeluarkan protes saja. Mari tunjukkan dalam sebuah aksi positif sesuai kemampuan masing-masing. Dan menjadi guru adalah sebuah wujud sumbangsih yang saya pilih.


Penulis Artikel Blog:
Nur Fajrina Rakhmawati
Peserta Program SM-3T Angkatan I

Info lebih lanjut mengenai program SM-3T dapat diakses di website DIKTI:
http://majubersama.dikti.go.id
Foto-foto yang di-upload di postingan ini merupakan koleksi pribadi milik penulis yang diambil pada masa penugasan di Kabupaten Ende. Sedangkan video bersumber dari http://www.youtube.com/watch?v=6iTeqe5u6vg .

9 komentar:

  1. Menjadi guru di daerah pedalaman, memang banyak tantangannya ya.... Semangat terus! :D

    BalasHapus
  2. Mbak Ina hebat! Itu tantangan yang bukan main-main. Ah, masih banyak insan yang mendedikasikan diri untuk kemajuan pendidikan. Mbak Ina layak disebut pahlawan. Pahlawan yang bukan tanpa tanda jasa. Pahlawan yang banyak jasa.
    Tabik!

    BalasHapus
  3. Tidak terbayang. Bener bener hebat, 4 jempol untuk mbak

    BalasHapus
  4. Masya Allah Mak .... semoga berkah dunia-akhirat dan selalu berdedikasi tinggi hingga akhir hayat ya. Salut ya padamu, Mak.

    BalasHapus
  5. Ina.. Keren sekali. Luar biasa kamu :) Terima kasih e buat dedikasimu untuk Flores..

    BalasHapus
  6. Jadi, inget cerita temen kuliah. Tapi apa pun itu, lakukan yang terbaik, demi mencerdaskan anak bangsa. Karena kalau bukan kita siapa.

    BalasHapus
  7. selain tantangan yang besar tapi punya pahal yang besar mbak

    BalasHapus
  8. sungguh, guru itu pelita harapan bagi murid-muridnya. sebuah tantangan besar memang mbak kalo harus di daerah seperti itu, tapi semangat guru akan membangkitkan semangat murid2nya.

    you're the best, mbak. bisa kesana :)

    BalasHapus
  9. Salut sekali dengan sarjana2 yang ikut SM-3T dan Indonesia Mengajar
    Memang kenyataannya daerah2 terpinggir dan terluar itu pendidikannya jauh tertinggal.
    Semoga dg pemerintahan yang baru kelak, perhatian pemerintah pada dunia pendidikan khususnya daerah 3T semakin besar. Aamiin.

    BalasHapus

hay. feel free to say anything, except SPAM :-D . i don't want to miss any comment and i will approve your comment here.

If anyone feel that I have"something wrong" in this article, please let me know immediately and i will repair it.