Rabu, 08 Januari 2014

OSPEK di Luar Batas Kewajaran, Nyawa Pun Melayang



 KOMPAS.com — Meninggalnya FDS, mahasiswa baru di sebuah institut di kota M, diduga akibat disiksa oleh oknum fendem (panitia keamanan ospek) yang berlangsung pada 9-13 Oktober 2013 lalu.
Menurut rekannya, FDS, mahasiswa baru asal Mataram, Lombok, NTB, itu disiksa karena berupaya untuk melindungi para mahasiswa lain yang mengikuti ospek. "FDS mencoba melindungi peserta ospek lainnya. Upaya itu diketahui oleh pihak panitia. Saat itu, panitia semakin brutal kepada FDS," kata Lalu Mustaqim, koordinator aksi, kepada Kompas.com, Senin (9/12/2013).
Dikutip dari

Demikian berita yang saya baca di internet belum lama ini. Saya jarang sekali menonton televisi kecuali pada saat berada di rumah di Cilacap. Untung aja sekarang internet semakin booming sehingga berita-berita terkini pun dengan mudahnya diakses via internet maupun akun-akun berita di twitter. Kasus kematian bukan yang pertama kali ini saja terjadi saat pelaksanaan orientasi mahasiswa atau ospek atau kegiatan dalam area intitusi pendidikan. Berita terakhir kabar kematian yang terjadi beberapa bulan silam itu membuat banyak pihak sekaligus saya , terhenyak.

Masa orientasi siswa maupun mahasiswa idealnya adalah ajang pengenalan siswa atau mahasiswa baru ke dalam lingkungan dan aturan dalam jenjang pendidikan baru yang akan ditempuhnya. Memang, sebagian kegiatan orientasi tersebut tidak lepas dari aturan yang bersifat senioritas. Masih ingat masa orientasi siswa (MOS) yang pernah kita alami?

Ada yang disuruh nyanyi kalau terlambat masuk, diwajibkan memberi hormat kalau ketemu kakak pembina OSIS, latihan kedisiplinan yang kadang dibuat-buat untuk ajang cari kesalahan dan hukumannya harus minta tanda tangan kakak kelas..hehehe. Ada yang disuruh kuncir rambut pakai tali rafia warna-warni. Ada yang dihujani dengan hukuman permainan-permainan yang lucu dan konyol. Atau peraturan baris-berbaris yang sangat ketat.

Atau saat OSPEK. Banyak ajang perpeloncoan disuruh penugasan ini-itu yang ribet dan bikin jam tidur kurang. Serta agenda OSPEK yang full dari pagi sampai maghrib.
Katakan lah saja, cara-cara itu digunakan untuk ‘mendisiplinkan si anak baru’ agar nggak cengeng dan nggak manja. Oke sih...asalkan masih dalam batas koridor yang bersifat wajar. Bagaimana dengan berita kematian di atas?

Si korban sudah kepayahan, dengan kondisi fisik yang tidak kuat lagi mengikuti kegiatan dan tidak diperkenankan untuk minum dalam jumlah yang cukup, ditambah dengan penyiksaan fisik lainnya oleh para senior. Korban yang berasaldari jurusan planologi tersebut menghembuskan nafas terakhir di lokasi. Entah seperti apa perasaan orang tua korban saat mengetahui kabar tentang kematian anaknya yang (bisa dikatakan) tidak wajar. Sedih? Tentu. Bahkan seandainya saya jadi orang tua atau sodara korban, kalau bisa saya akan menuntut para pelaku agar dihukum seadil-adilnya.

Mungkin di mata mereka , mem-bully anak baru kesannya keren. Yach...hitung-hitung sebagai pelajaran uji ketahanan psikis. Namun, menurut saya cara-cara yang tidak wajar seperti itu lebih terkesan ke arah yang menunjukkan “Ni lho, gue senior! Lo mesti patuh sama gue..nurut sama semua aturan gue!”

Namun, tidak adakah cara yang lebih memanusiakan manusia daripada sekedar penyiksaan berkedok ospek? Seakan nyawa itu harganya ‘murah’...

Beruntung saya tidak pernah mengalami maupun melihat secara langsung masa orientasi yang menyebalkan. Waktu SMA seleksi masuk OSIS, paling-paling disuruh bangun tengah malam..berdiri di lapangan dalam posisi berdiri tegak..nggak boleh gerak..atau akan dibentak-bentak, disuruh ngapalin nomer pesertaku yang jumlahnya 29 digit angka. Besoknya, diuji presentasi spontan tentang pengetahuan OSIS...trus hiking...diceburin di kali. Gitu aja. Sedangkan sebagian jam masa orientasi siswa di SMA diisi dengan materi yang diberikan oleh kepala sekolah, guru dan kakak OSIS.
Waktu SMP, paling-paling disuruh nyanyi, joget kalau melakukan kesalahan.
Waktu OSPEK malah lebih selow lagi. Secara anak Fakultas Ilmu Pendidikan jadi OSPEKnya full tentang materi-materi, pengenalan area dan struktur  kampus, atau permainan yang bersifat edukatif di lapangan. Ada juga penugasan yang cukup ribet, ya enggak apa-apa...namanya juga OSPEK.

Saat pembekalan sebelum ke daerah 3T (Tertinggal, Terluar, Terdepan), saya dididik selama 10 hari di Akademi Angkatan Udara (AAU) bersama peserta lainnya. Nggak tanggung-tanggung, yang melatih kami adalah pelatih TNI dari AAU. Siapa bilang untuk menguji ketahanan mental dan nyali seseorang harus menggunakan kekerasan?
 
sebagian foto kegiatan saat pembekalan di AAU
Pada hari pertama kami jalan kaki mengelilingi area AAU yang jauhnya kira-kira 10-15 kilometer. Kami diajari untuk disiplin. Bangun saat adzan subuh, olahraga, sarapan tiga kali sehari dengan teratur dengan menu yang bergizi. Kami diingatkan cara mensyukuri makanan dengan cara WAJIB menghabiskan porsi makanan yang diambil di piring. Setiap meja diatur dan diisi dengan 6-8 kursi dan sudah disediakan porsi makan, minum, lauk dan buah yang wajib dibagi oleh anggota tanpa bersuara.

Ada juga uji ketahanan fisik dan kedisiplinan berupa baris berbaris dan latihan upacara yang....sangat ketat. Peringatan bahwa baju kami harus selalu rapi. Nggak rapi sedikit saja, pelatih akan membentak kami. Apakah yang benar-benar sakit diperbolehkan istirahat? Oh tentu saja. Bukan sekedar boleh istirahat, melainkan juga diberi obat.

Ada juga porsi uji keberanian dengan merayap di tali di ketinggian, rafting (terjun bebas dengan tali pengaman dari ketinggian 15 meter), sampai lintas danau dengan merayap di tali). Sebagian peserta merasa takut, tetapi para pelatih men-sugesti kami agar percaya dengan kemampuan diri bahwa sebenarnya kami BISA.  Tidak sekedar kegiatan yang melelahkan, kami diberi banyak materi yang berbobot. Akhirnya tidak sekedar ilmu dan pengalaman yang didapat. Ada kebersamaan sesama peserta yang hampir semua belum saling kenal pada awalnya.

Menurut pandangan saya, sistem masa orientasi yang di luar batas kewajaran tidak mustahil untuk dihentikan. Untuk memunculkan ‘kesadaran’ bagi pelaku sebenarnya bisa dimulai dengan ketegasan yang seharusnya diberikan oleh pihak petinggi dari institusi pendidikan yang berwenang berupa larangan atau sangsi yang akan dikenakan jika melakukan tindakan di luar batas dan  pengawasan terhadap kegiatan-kegiatan kampus secara maksimal.

Salam Edukasi dari Surabaya :-)

30 komentar:

  1. masih ada ospek yang keras seperti itu ya ternyata

    BalasHapus
    Balasan
    1. :-( nggak pantas mbak ospek semacam itu.

      Hapus
  2. kalau di kampus swasta setahu saya jarang, tp kalau di negeri mungkin ospek masih terus di budayakan. Tapi, tergantung regulasi dr rektor kampus tsb.

    BalasHapus
    Balasan
    1. asal ospeknya masih wajar2 saja nggak masalah mas. malah perlu :-)

      Hapus
  3. itu baru sebatas ospek bagi mahasiswa dan mahasiswi yang tak wajar, bagaimana dengan perploncoan para calon angkatan bersenjata baik darat, laut dan udara oleh para seniornya yang mengerikan jika kita liat video beritanya di televisi - televisi? Selain korupsi, entah mengapa mem-bully dengan kekerasan menjadi tradisi di negeri ini T,T Alasan apapun tak bisa menegaskan bahwa kekerasan itu dibenarkan kecuali dalam hukum yang adil. Bagaimana jika kegiatan OSPEK materinya diperbanyak dengan pelajaran moral? Ditujukan agar calon mahasiswa mempunyai bekal moral yang ideal dalam mengarungi pembelajaran sampai lulus nanti, sehingga jika sukses pada akhirnya tidak akan melakukan tindakan KKN di segala aspek. Ingat sila ke - 2 berbunyi Kemanusiaan yang adil dan beradab.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau untuk taruna angkatan saya sering dengar cerita bahwa masa perpeloncoannya "menyeramkan" . tapi memang disetting demikian untuk melatih mental mereka, apalagi sisstem pendidikan militer juga berat. porsinya disesuaikan dgn tuntutan pekerjaan mereka nantinya. saya rasa, kalau hanya untuk takaran mahasiswa biasa atau sipil, tdk bs disamakan dgn militer, yg ada hanya sewenang2 (contoh kasus STP*N / IPD* dulu)

      Hapus
  4. Kadang sering dengar kata "balas dendam" pada ospek atau mos. Tapi ya gak gitu juga kalik ya, Mba. Nyawa sampai melayang kan berdosa. Hadeeh.

    Mending ketahanan fisiknya seprti yang dijelaskan tadi, baris ber baris, atau lari jarak pendek. Hehehe

    BalasHapus
  5. serem juga ya kalau ada kekerasan di ospek. aku sendiri sih belum pernah mengalami ospek dan sepertinya di kampusku aman2 saja :)

    BalasHapus
  6. kriminalitas itu namanya, hrs di hukum seadil2nya tuh...

    BalasHapus
  7. ospek apa sabung ayam ya itu. ngeri banget..ya allah..

    BalasHapus
  8. Ospek di kampusku dulu gitu kak, universitas negeri. Tapi skrng udah gak ada lagi hahaha.. Tapi angkatanku masih sempet merasakannya. Disuruh jalan di Got, terus ditendang dari atas. Hahaha xD

    BalasHapus
  9. Dulu saya pernah jadi panitia MOS ka pas SMA, bagian yang marah-marah gitu, tapi setelah dua hari teriak-teriak marah-marahin siswa baru, saya kecapekan dan akhirnya sakit. Mungkin emang takdirnya buat ga bikin dosa banyak-banyak :") dan pas di univ. saya juga jadi panitia ospek, koordinator acara waktu itu, dan kita bisa kok bikin acara ga pakai kekerasan dan mendapat sambutan positif jjuga dari mahasiswa barunya. Awal masuk sekolah atau univ harusnya disuguhi yang bagus-bagus dong yaa, bukan dimarah-marahin -__-

    BalasHapus
  10. iyaa. suka ngeri sama pemberitaan ospek yang makan korban.. tahun ajaran baru kemarin lumayan banyak tuh pemberitaan ttg kekerasana ospek, padahal udah disampaikan untuk enggak pake kekerasan toh kekerasan kayak gitu gak ada mendidik mendidiknya.. jauh dari tujuan ngospek yg sebenarnya...

    BalasHapus
  11. tuh yang nyiksa kemarin akhirnya dipenjara nggak ya mbak?? gedeg banget ngeliatnya, kasihan banget korbannya jauh jauh belajar malah tewas sebelum mulai belajar...biadab bener dah!
    iya, samaaa..alhamdulillah dulu OSPEK aku seru seru aja nggak ada yang nyiksa nyiksa gimana gitu, malah cuman lucu lucuan aja gituu..udah gitu juga para senior di hari terakhir gitu mereka pada salaman minta maaf, udah abis itu nggak ada dendam mendendam..coba semuanya diambil fun kek gitu yak

    BalasHapus
    Balasan
    1. asik tuh kalo misaalnya ospek fun kayak gt ya :)

      Hapus
  12. Sebenarnya yang harus diedukasi ya semua. Mulai dari pihak rektorat yang meloloskan kegiatan OSPEK tersebut, panitia OSPEK, dan mahasiswa/ i yang diospek itu. Semuanya, tentang bagaimana seharusnya OSPEK yang baik dan benar, bukan melulu tentang kekerasan. Biasanya kekerasan hanya akan menimbulkan sakit hati dan dendam ketika ada yang diospek tidak terima dengan perlakuan tersebut.

    Yuk, sama sama membuat pendidikan ini aman dan nyaman, serta menyenangkan :)

    BalasHapus
  13. seharusnya ospek bukan jadi ajang perploncoan tapi dipakai untuk sarana mengenal kampus, teman dan lingkungan baru
    miris Ina lihat berita2 sekarang, kebanyakaan ospek dipakai utk kekerasan samapi ada yg meninggal dunia.. semoga nantinya tidak terjadi lagi aamin
    kalo aku dulu sih gak ngalamin yg kyk gt

    BalasHapus
    Balasan
    1. untung kita gak pernah mengalaminya :)

      Hapus
  14. Kekerasan dalam ospek jelas tidak manusiawi lah, tapi ospek sebagai ajang untuk saling mengenal dan saling memberi informasi. dalam hal inilah kemudian ospek menjadi penting :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ospek penting asalkan kegiatannya bnr2 sesuai utk mhsiswa baru

      Hapus
  15. aaw, aaaw, itu tetangga kampus saya.
    emang beritanya kaya ditutup - tutupi gitu deh.
    aneh tuh emang kampusnya u,u

    BalasHapus

hay. feel free to say anything, except SPAM :-D . i don't want to miss any comment and i will approve your comment here.

If anyone feel that I have"something wrong" in this article, please let me know immediately and i will repair it.