Jumat, 19 September 2014

Keliling Pantai Pasir Putih dan Pulau-pulau Mini dengan Modal 100 Ribu


Jalan-jalan tidak selalu mengakibatkan ‘kerusakan dompet’ sampai ratusan ribu rupiah. Semasa masih jadi anak kuliahan, saya dan sahabat saya, Prita, nge-gembel di Solo dengan modal 45 ribu per-orang. Eit, bukan gembel dalam arti yang sebenarnya yach. Padahal berangkatnya dari Jogja naik kereta prameks, nyampe di Solo juga muter-muternya mengandalkan becak dan angkot. Nggak ada istilah belanja-belanja batik. Yang penting muter-muter mall, pasar, obyek-obyek wisata dan makan. Yes, dugem (maksudnya: duduk kayak gembel) is very fun! Bagi kami, jalan-jalan itu seperti ‘melihat dunia’.


Kata siapa jalan-jalan dengan modal minim itu nyiksa? Malah bisa jadi justru lebih berkesan, menantang dan unforgettable. Waktu itu saya masih menjalani kontrak pusat untuk mengajar di Ende. Saat liburan sekolah, saya turun ke kota Ende dan menginap di rumah mama angkat.  Adalah kawan saya mengajak saya untuk memanfaatkan waktu liburan yang tersisa dan ingin mengeksplor sisi lain dari pemandangan alam di Kabupaten Ende. Ini idenya Mas Bangkit dan Mas Imam, kawan sesama guru kontrak yang traveller sejati deh pokoknya :D

Selama ini Ende terkenal dengan Danau Kelimutu dan Rumah Pengasingan Bung Karno-nya. Maka tujuan kami adalah jalan-jalan ke rute yang nggak biasa dikenal orang. Masih dalam kawasan Kabupaten Ende, yaitu:
- Pantai Anabara di Kecamatan Maurole
- Pulau Kinde, Koba dan Tanjung yang ada di Kecamatan Maukaro.
 Saya sempat googling dan nggak menemukan informasi yang komplit di internet. Bahkan kawasan ini nggak diresmikan sebagai obyek wisata. Eh, jangan salah...walaupun nggak terkenal, berdasarkan informasi dari teman-teman guru kontrak pusat yang penempatannya area sana, pemandangannya tetap luar biasa. Begitulah wilayah timur, pesona alamnya sangat mempesona dan alamiah, tetapi banyak yang nggak ‘diolah’ sebagai obyek wisata.

Menuju Pantai Anabara

Percaya atau tidak, segalanya baru fixed sehari sebelum perjalanan. Kami pergi ber-empat: Mas Bangkit, Mas Imam, Saya dan Mimi. Mas Imam dan Mas Bangkit emang punya segudang ide. Mereka menyewa 2 motor miliknya tukang ojek, hahaha. Motornya doang yang disewa, nggak termasuk si tukang ojeknya.  Hari pertama, perjalanan dimulai dari kota Ende jam 10.00 WITA abis sarapan di rumah mama angkat. Saya dan Mimi emang satu mama angkat. Kami dijemput oleh Mas Imam dan Mas Bangkit. Ternyata motor yang dinaiki Mas Bangkit nggak ada spionnya! Terus kondisi ban depan ‘halus’ alias udah tipis. Wekekekek.

“Wah Mas, kok nggak pilih sewa motor lain?” tanyaku.
“Wealah, dapetnya cuma ini je,” kata Mas Bangkit. Sedangkan motor yang dinaiki Mas Imam ada 2 spion dan kondisi ban masih bagus.
“Yowislah moga-moga nggak apa-apa,” kataku.
Mas Bangkit ngeboncengin saya, dan Mas Iman boncengan sama Mimi. Dengan berbekal snack ringan, kami melaju. Wussss.... *eh, emang gitu bunyinya wus wus wus? :p *
hampir tiba di Pantai Anabara
nampang di Pantai Anabara, ah. Kapan lagi?? :D
airnya jernih. (photo by: Mas Imam)

Sebelum tiba di Kecamatan Maukaro, rutenya emang melewati Kecamamatan Maurole. Nah, perjalanan Kota Ende sampai Kec.Maurole jalannya masih mulus. Walaupun teuteup, berliku, naik turun dan belok-belok penuh tikungan. Kami tiba di Pantai Anabara, Kecamatan Maurole pukul 12.00 WITA. Nggak ada tiket masuk dan nggak ada tukang parkir. Free!
Pantai Anabara , di Kecamatan Maurole, dengan pasir putihnya

Pulau Flores identik dengan pantai pesisir selatan yang berpasir hitam dan pantai pesisir utara yang berpasir putih. Pantai Maurole yang terletak di pesisir utara Flores ini memanjakan mata kami dengan pasir putihnya yang indah dan pemandangannya yang alami. Pantai ini sepi dan tenang. Siang itu, sinar matahari sangat terik. Lucu juga sih...jalan-jalan ke pantai di tengah siang bolong. Emang gue pikirin (EGP) deh sama terik matahari :p

Tiba di Kecamatan Maukaro, Tak Sekedar Singgah
Lanjuuutt perjalanan ke kecamatan Maukaro, mamen!

Setelah cukup menikmati pemandangan dan berfoto ria, pada jam 14.00 WITA kami melanjutkan perjalanan ke kecamtan Maukaro. Astaga....jalanan menuju kecamatan ini sulit ditempuh.  Meskipun ada perbaikan jalan di lokasi tertentu, tetap saja masih didominasi oleh kondisi jalanan yang berbatu kasar dan tidak beraspal.  Beberapa kali saya harus turun dari motor dan berjalan selama beberapa menit jika melewati jalanan yang sangat menanjak dan curam.

Teringat kondisi motor yang beresiko tinggi untuk bocor, kami cuma bisa berharap motor nggak kenapa-kenapa. Bisa dibayangkan betapa repotnya jika ban motor pecah di jalan, karena sangat jauh dari tempat tambal ban. Sepanjang jalan relatif sepiiii. Pukul 16.00 WITA, kami tiba di kecamatan Maukaro dan beristirahat sekaligus menginap di rumah kontrakan teman-teman guru yang dapat penugasan di kecamatan ini. Ah, senangnyaaa kumpul-kumpul dengan banyak teman di tahah rantau! Plus disuguhin masakan teman-teman di rumah kontrakan. Kaki dan pinggang yang pegal pun seolah nggak terasa...(alias nggak ‘dirasakan’ :p )
Tiba juga deh di Maukaro!

Mas Imam, Saya dan Mas Bangkit di rumah kontrakan teman-teman di Kecamatan Maukaro
2nd Day: Berlayar Keliling Pulau Kinde, Koba, Tanjung

Tujuan hari kedua adalah berlayar!  Dua orang teman kami yang ada di Maukaro,yaitu Mbak Erva dan Mbak Septa, ikut serta. Sedangkan teman-teman lain milih standby di kontrakan aja, karena udah pernah ‘berlayar’ sebelumnya.  Jadi rombongan ‘berlayar’ berjumlah 6 orang, yaitu Mas Bangkit, Mas Imam, Mbak Septa, Mbak Erva, Saya dan Mimi.  Kami berjalan melewati kampung nelayan dan tiba di pinggir pantai untuk mencari perahu kayu bermotor yang bisa disewa. Sesekali terlihat babi dan anjing piaraan penduduk sekitar berseliweran di jalan kampung. Penduduk kampung nelayan menyapa dengan ramah saat kami berjalan melewati perkampungan mereka. 
Lewat kampung nelayan ^_^

Karena cuaca mendung, bapak pemilik perahu sempat ragu hendak membawa kami pergi berlayar. Namun, kami tetap kekeuh. Hahaha...Lagipula kondisi lautan tenang. Akhirnya, bapak pemilik perahu motor setuju dan harga sewa perahu yang disepakati adalah 150.000 IDR.  Yap, harga yang nggak mahal. Perahu kayu bermotor ini sepertinya sudah cukup tua, nggak disertai jaket pelampung, tetapi masih layak jalan. Bapak pemilik perahu mengajak tiga orang anaknya yang masih kecil. Beliau dan ketiga anaknya menguras air yang masuk ke dek kapal, menyiapkan bensin dan menghidupkan mesin perahu. Taraaaa...we are ready for this journey!
foto-foto bareng kawan seperjuangan :D
perahu bermotor siap mengantarkan kami berlayar!

Perahu kayu bermotor melaju di lautan. Sekeliling saya hanya aja pemandangan air, lautan, dan perbukitan. Indah sekali. Rasanya seperti ikutan acara Jejak Petualang saja, nih. Hahaha. Sekitar 30 menit kemudian, perahu merapat di Pulau Kinde, sebuah pulau kecil tak berpenghuni yang luasnya hanya 1 kilometer. Benar saja, pemandangannya bagus.  Nampak perbukitan besar, kayu, ilalang dan pantai pasir putih dengan gradasi warna memukau. Kami tidak melewatkan kesempatan untuk  berfoto ria, mengabadikan momen ini. Berhubung tidak ada cinderamata khas dalam perjalanan kali ini, maka potret-potret pun sudah cukup sebagai kenang-kenangan yang berharga.
Pasir putih di Pulau Kinde
suasana Pulau Kinde
bareng teman-teman di pantai Pulau Kinde
"hahaha ini kan Pulau Tikus," kata Mbak Ayu waktu lihat foto ini.

Setelah itu, kami kembali naik perahu kayu bermotor dan melewati Pulau Tikus yang terletak berdekatan dengan Pulau Kinde. Bedanya, Pulau Tikus ini mungil banget. Bukan daratan, tetapi lebih menyerupai bebatuan raksasa yang tumbuh di tengah lautan. Perahu terus melaju, membelah semilir angin laut yang berhembus.
Pulau Koba, serasa di belahan dunia manaa gitu ^_^
Rumah penduduk di Pulau Koba, ada 5 rumah aja

Tujuan berikutnya adalah merapat di Koba, pulau kecil yang hanya terdapat lima rumah berdinding bambu di daratannya. Wah, saya terpukau membayangkan betapa kerennya penduduk di lima rumah itu survive tinggal di Koba yang nggak ada apa-apanya! Namun, lagi-lagi pesisir pantai pulau ini menyuguhkan pasir putih dan bukit yang indah. Kami menyempatkan turun sebentar ke Pulau Koba. Dengan cuaca yang kurang cerah saja pemandangannya tetap indah, apalagi kalau cuaca cerah.

Setelah itu, apakah perjalanan sudah selesai? Oh, belum! Bapak pemilik perahu mengantarkan kami menelusuri Tanjung Maukaro. Tampak pepohonan bakau di depan mata. Bapak pemilik perahu dan ketiga anaknya turun mengambil buah asam dari pohon. Hmmm...masih alami ada kulitnya. Saya ikutan nyicipin...asem bangeeeett. Ya iyalah...! Hehehe...gini nih kalo kehabisan cemilan, sampai-sampai asam-pun ikutan dicicipin...
Tanjung, ada bakaunya

Usai dari tanjung, akhirnya perahu kayu bermotor kembali menuju pantai kecamatan Maukaro. Perjalanan yang menyenangkan. Flores memiliki keindahan alam yang luar biasa, sayangnya masih banyak yang tidak dikelola. Andai saja pemandangan seperti ini letaknya di Bali, Lombok, atau Jawa, tentu sudah terkenal. Kami tiba di kecamatan Maukaro pukul 13.00 WITA. Setelah mengucapkan terima kasih kepada bapak pemilik perahu, kamipun berjalan kaki menuju rumah kontrakan teman yang nggak jauh dari situ. Nggak ada acara kuliner-kulineran, karena emang nggak ada makanan yang khas dan saya nggak melihat ada warung makan di sekitar situ. Jadi, kami makan di rumah kontrakan teman. (Tenkiu jamuannya, hehehe...).

Pukul 14.00 WITA, saya, Mas Bangkit, Mas Imam dan Mimi kembali ke kota Ende dengan motor sewaan kami. Syukurlah, nggak ada acara ban bocor ataupun motor mogok. Pokoknya aman sentosa sampai di Kota Ende. Setibanya di Kota Ende, kami mampir di warung bakso.* Sikat! Nyam!*

Catatan:
Kalau suatu saat sobat berkunjung ke Ende, Flores dan pingin bermain-main ke lokasi yang di atas, jalur yang ditempuh bisa lewat Kota Ende- Kec.Detusoko-Kec.Maurole dan finish di Kec. Maukaro.
Pengeluaran Jalan-jalan dengan modal 100K:
-Sewa motor ( 50.000 dibagi 2 bareng Mas Bangkit)= Rp.25.000
-iuran bensin= Rp.30.000
-Snack dan air mineral= Rp.7000
-iuran sewa perahu = Rp.25.000
-Makan bakso usai jalan-jalan+teh anget = Rp.11.000
-Total Rp. 98.000, sisa 2 ribu.


update 10 oktober 2014.
info kontes : http://www.jalanjalanyuk.com/jalan-jalan-modal-100-ribu-giveaway/
info daftar peserta : http://www.jalanjalanyuk.com/daftar-peserta-giveaway-modal100k/
info pemenang kontes giveaway : http://www.jalanjalanyuk.com/pengumuman-giveaway-modal100k

24 komentar:

  1. wowww,,keren bangettt pulaunya mbk^^

    BalasHapus
  2. Subhanallaaah itu pemandangannya luar biasa banget ya Mba Ina. Mana modalnya ga nyampe 100rebu lagi. Juara banget deh. Seru mbayangin naik motor di tengah pemandangan cantik..

    BalasHapus
  3. Eh komen sebelumnya masuk gak ya? Kalo ga masuk yang tadi saya bilang luar biasa , keliling naik motor dengan biaya ga nyampe 100rebu dan dapet pemandangan luar biasa seperti itu.. Sukes ya Mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. komennya masuk, maaf dimoderasi dulu :D

      Hapus
  4. wah mbak, perjalanannya bener2 penuh perjuangan yaa, tapi bener2 terbayar dengan keindahan alamnya...

    BalasHapus
  5. paling pinter deh buat urusan yang hemat2,,, hahahahhahaha,, :p

    BalasHapus
  6. harus bawa kendaraan sendiri ya kalau kesana atau sewa motor

    BalasHapus
  7. JOSS!! sekali Nona Ina :DD Tidak sabar pengen ke Endee :DD

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha saya juga pingin jalan2 lagi ke ende

      Hapus
  8. Saya dan teman-teman juga pernah bepergian dengan modal yang pas-pasan. Untuk mengehemat biaya, biasanya kami minta tumpangan truk yang sedang berhenti di pom bensin atau lampu merah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah pasti tak terlupakan pengalaman itu :D

      Hapus
  9. wah modal nya kecil banget 100 ribu bisa keliling di beberapa pantai, bener bener irit dan saya jadi pengen nih ikutan kesana :D

    BalasHapus
  10. Asyik bangeeet....
    iya, jalan2 ke pantai memang irit. hihi.. ini juga sedang edit terakhir jalan-jalan ke pantai ala kami

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah pasti asyik juga jalan2 ke pantai ala mbak susi

      Hapus
  11. Kok keren sih, udah sampai Ende ajah. Iri. >,<

    BalasHapus
  12. pemandangannya bagus-bagus,,bener mbak jalan-jalan dengan modal minim itu jadio tantangan bagi kita

    BalasHapus
  13. Kereeeeeenn.. Jempol dua deh buat si cantik ini.. :D

    BalasHapus
  14. Lagi kangen kabupaten ende, terutama kecamatan maukaro. Iseng-iseng search di google dan sampailah di blog ini. Jalan menuju kecamatan maukaro itu... :D

    BalasHapus

hay. feel free to say anything, except SPAM :-D . i don't want to miss any comment and i will approve your comment here.

If anyone feel that I have"something wrong" in this article, please let me know immediately and i will repair it.