Rabu, 24 September 2014

Sekolah Impian, Sekolah untuk Investasi Masa Depan Anak Didik


SMAN 1 Bantul,  yang berlokasi di Kab.Bantul, DIY, adalah sebuah sekolah yang inspiratif bagi saya. Sekolah ini adalah sekolah tempat saya menjalani praktik pengalaman lapangan (PPL) alias praktik mengajar saat saya masih menjadi mahasiswa. Saat itu saya semester 6, tahun 2010. SMAN 1 Bantul menyandang status Rinstisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). Ada banyak poin yang membuat saya kagum pada sekolah negeri favorit ini, yaitu:



SMAN 1 Bantul di Tahun 2010 , doc:pribadi

1. Siswa-siswa yang masih menjunjung tinggi unggah-ungguh atau tata krama pada yang lebih tua. Bahkan terhadap mahasiswa PPL, siswa umumnya tetap sopan dan menghormati. Saat berbicara pada guru, siswa-siswa yang sebagian besar asli dan besar di DIY menggunakan bahasa jawa halus (krama). Siswa juga bersalaman dan mencium tangan guru. Bahkan, banyak siswa yang naik sepeda ke sekolah. Sebagian lainnya naik kendaraan umum dan sepeda motor. Suatu hal yang jarang saya jumpai di sekolah-sekolah. Meskipun demikian, fasilitas sekolah komplit lho.

2. Guru nggak memaksakan siswa beli buku-buku paket yang harganya mahal. Pakai LKS dan tambahan fotokopian handout juga boleh.


3. Siswa-siswa menuturkan kalau guru nggak ‘memaksakan’ siswa yang pintar secara akademik harus masuk IPA. Semua disesuaikan dengan minat dan bakat siswa.

4. Peraturan disiplin nggak hanya berlaku bagi siswa. Jam 7 pagi gerbang ditutup, jadi siswa dan guru yang terlambat harus menunggu di luar gerbang sampai 30 menitan. Nah lho, malu sendiri kan kalo telat. Hehehe....kecuali ada alasan tertentu yang sangat mendasari atau mendesak sehingga menyebabkan terlambat ke sekolah.

5. Jumlah siswa dibatasi. Satu kelas hanya berisi 28-32 siswa dengan jumlah 6 kelas untuk kelas X. Sehingga, proses pembelajaran lebih kondusif.

6. Banyak guru menerapkan metode pembelajaran yang menarik saat mengajar.


gambar 1: Mendikbud dan Kepsek SMAN 1 Bantul saat peresmian Kurikulum 2013 di SMAN 1 Bantul

 Beberapa bulan yang lalu, saya bersilaturahmi ke sekolah ini. Tepatnya ke guru-guru pembimbing saya semasa PPL. Daannn, tahun 2014 sekolah ini makin keren! Makin banyak guru yang S2. Setelah program RSBI dihapuskan, sekolah menerapkan konsep adiwiyata. Ada juga kantin sehat yang harga jajanannya terjangkau.

Gambar 2: Kantin sehat di SMAN 1 Bantul

  Saya ditraktir jajan oleh Bu Tjatur, guru pembimbing saya saat PPL dulu. Dengan ramah beliau mengingatkan pedagang di kantin supaya menjaga kebersihan tangan saat meracik makanan.


Gambar 3: Konsep sekolah adiwiyata

Gambar 4: Kegiatan siswa: seni menghias dinding (mural in action)

Banyak ilmu dan manfaat yang bisa saya petik selama praktik mengajar di sekolah ini. Sekolah yang tidak jauh berbeda dengan konsep sekolah impian yang mencerdaskan anak bangsa.

Sekolah impian di mata saya adalah sekolah yang bisa menjadi ‘investasi’ bagi masa depan anak didik. Setidaknya, beberapa hal di bawah ini ada dalam bayangan sekolah impian ala saya:
1.Sekolah memiliki guru yang berkarakter
Dalam menerapkan pendidikan karakter di sekolah, guru juga harus berkarakter dengan cara memberikan contoh yang baik melalui penerapan kode etik guru dalam kehidupan sehari-hari serta menguasai empat standar kompetensi guru. Melarang siswa merokok di sekolah, guru pun tidak boleh merokok di sekolah. Melarang siswa terlambat ke sekolah, guru juga harus disiplin. Sesuai dengan falsafah lama : guru= digugu lan ditiru.

2. Penerapan pembelajaran di sekolah yang aktif dan kreatif. Apalagi dalam menghadapi kurikulum 2013, guru dituntut inovatif. Biarkan siswa mengembangkan konsep pelajaran lewat praktik atau pengamatan dengan bimbingan guru. Dari situlah siswa dilatih bertanggung jawab. Siswa tidak perlu diberikan rentetan pekerjaan rumah yang justru akan membebaninya.
Dalam buku yang berjudul “Surat untuk Sekolah”, J Khrisnamukti menyampaikan bahwa “Pendidikan bukan sekedar mengajarkan berbagai macam mata pelajaran, tetapi juga upaya untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab pada siswa.”

3. Pemberian hukuman di sekolah harus bersifat mendidik dengan tujuan menyadarkan siswa akan perilakunya yang salah. Namanya anak-anak, wajar saya bila pernah melanggar peraturan di sekolah. Sayangnya, beberapa guru menjadi tidak sabar dan memberi hukuman yang tidak membuat efek jera pada anak. Seperti menyuruhnya lari panas-panasan keliling lapangan, membersihkan toilet sekolah, atau memukul. Hal ini membuat anak tertekan dari sisi psikologis. Seharusnya hukuman diganti bentuknya, seperti menyuruhnya membuat cerita tentang keluarganya dalam bentuk tulisan minimal 1-2 halaman. Nah, dari sini guru akan terbantu untuk mengenali pola-pola asuh keluarga siswa yang mungkin berpengaruh terhadap perilaku ‘nakal’ siswa tersebut di sekolah.

4. Penerapan nilai pendidikan karakter di sekolah
Sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat bagi guru untuk menanamkan pengetahuan akademik kepada siswanya. Melainkan juga tempat untuk membekali mereka dengan budi pekerti dan akhlak mulia sebagai penuntun siswa dalam melangkah saat meraih masa depannya.  Di sinilah siswa dibekali pendidikan karakter dalam mengembangkan dirinya.  Pendidikan karakter yang bersumber dari nilai-nilai dalam Pembukaan UUD 45 dan kelima sila Pancasila.
Contohnya: guru mempertegas larangan mencontek ketika ujian. Contoh lainnya, yaitu pelestarian nilai-nilai budaya lokal yang santun.

5. Sekolah yang memaksimalkan pengembangan diri siswa, menghargai bakat dan memperhatikan minat siswa. Patokan standar akademik seperti nilai raport yang bagus, bisa mengusai pelajaran eksak, atau juara dalam berbagai lomba bidang studi eksak, debat Bahasa Inggris dan olimpiade sains kadang dianggap tolak ukur untuk menyebut siswa cerdas. Padahal, setiap anak dilahirkan dengan bakat dan kemampuan tersendiri. Ada yang mahir berhitung, tetapi kurang menguasai bidang olahraga. Ada yang tidak mahir dalam kemampuan verbal berbahasa Inggris, tetapi sangat pandai menyanyi. Berbagai kecerdasan tersebut sesuai dengan konsep kecerdasan majemuk yang dicetuskan oleh Dr,Howard Gardner dari Harvard University.

6. Adanya program sekolah adiwiyata. Lingkungan yang nyaman, asri dan sehat akan membuat siswa nyaman belajar. Selain itu, siswa akan belajar mencintai lingkungan.

7. Guru di sekolah harus komunikatif, termasuk dengan orang tua siswa. Tidak jarang guru/wali kelas menghadapi siswa yang super bandel. Sebagai agen perubahan, guru harus berkolaborasi dengan para stakeholder guna memecahkan permasalahan tersebut. Untuk menciptakan sebuah perubahan kondisi pendidikan, guru harus mampu membangun relasi yang baik dengan murid, kepala sekolah, rekan sesama profesi, komite, bahkan orang tua murid. Dengan adanya dukungan dari stakeholder, proses pembelajaran akan berlangsung lebih lancar. 

Tentunya, peran orang tua dan keluarga turut menyokong keberhasilan siswa dalam menuntut studinya di sekolah. Sebuah tugas yang besar bagi orang tua, calon tenaga pendidik, tenaga pendidik, maupun kita yang nantinya akan menjadi orang tua untuk turut memperhatikan jalannya proses pendidikan anak di sekolah. Berikut ini ada cuplikan video tentang Mommylicious #ParentingBook yang menarik untuk disimak:



(953 kata, tidak termasuk judul)
Sumber foto:

Gambar 1 : http://www.sman1bantul.sch.id/html/index.php?id=galeri&kode=29
Gambar 2: https://twitter.com/Sabayouth/status/441080772783386625
Gambar 3 dan 4: http://sabagoesgreen.blogspot.com/2013/04/galeri-sekolahku.html#more 

3 komentar:

  1. impiannya sangat mulia, jika terlaksana seperti itu. Sepertinya banyak anak anak bangsa yang cerdas ^_^

    BalasHapus
  2. Dilihat dari pintu masuknya saja sudah keren. Semoga sukses GA-nya.

    BalasHapus
  3. ini emang salah satu sekolah keren, Mbak Ina jadinya juga ikut keren karena pernah PPL disini :P

    BalasHapus

hay. feel free to say anything, except SPAM :-D . i don't want to miss any comment and i will approve your comment here.

If anyone feel that I have"something wrong" in this article, please let me know immediately and i will repair it.